Radio Nederland Wereldomroep

Michel Hoebink

17-10-2006

irshad manji.jpg

Irshad Manji

Cendekiawan Barat seharusnya tidak takut lagi mengkritik Islam. Kritik mereka justru diperlukan untuk mewujudkan reformasi yang dibutuhkan agama Islam. Demikian ujar reformis muslim asal Kanada, Irshad Manji. Bagian pertama serial pemikir muslim moderen.
 
'Hirsi Alinya Kanada'
Di Belanda, Irshad Manji terkadang dijuluki 'Hirsi Alinya Kanada'. Memang Manji memiliki banyak kesamaan dengan mantan anggota parlemen Belanda asal Somalia yang kini bekerja di lembaga konservatif Amerika Serikat, AEI, American Enterprise Institute. Keduanya adalah perempuan muda dengan latar belakang muslim. Keduanya berang dengan ketidakadilan terhadap perempuan atas nama Islam. Keduanya menjadi tenar dan dipuja sebagai pahlawan di dunia Barat karena kritik agresif mereka terhadap Islam. Tetapi mereka dihujat di dunia muslim.
 
'Provokator berjalan'
Sebagai seorang muslim dan feminis lesbian, Manji merupakan seorang provokator berjalan di mata Islam tradisional. Tahun 2003 ia mempublikasikan bukunya "The Trouble with Islam Today", yang merupakan kritik tajam terhadap pelanggaran hak-hak perempuan dan kelompok minoritas agama lainnya atas nama Islam. Buku itu akhirnya menjadi buku terlaris dan Manji - yang sampai saat itu adalah pembawa acara talkshow televisi Kanada -merupakan sosok yang sangat terkenal dalam setiap acara debat mengenai Islam. Bagi banyak muslim pendapatnya samasekali tidak bisa diterima. Manji mengakui bahwa ia 'dibenci oleh banyak orang yang justru ingin dibantunya.' Namun ia juga mendapat banyak dukungan dari orang-orang Islam yang mendambakan perubahan. Terjemahan bukunya dalam bahasa Arab, Farsi, dan Urdu yang dimuat di situs webnya sangat laris.
 
Karena tafsiran harfiah
Seperti halnya Hirsi Ali, Manji juga percaya bahwa Islam mengalami krisis yang akan mengancam dan menyeret dunia lainnya. Memang semua agama memiliki kelompok fundamentalis tersendiri yang menerapkan tafsiran harfiah, namun di agama Islam kelompok itu merupakan mayoritas. Obsesi kelompok fundamentalis untuk menelan ajaran Islam secara harfiah, menurut Manji merupakan penyebab semua masalah yang melanda Islam saat ini. Pola pemikiran seperti itulah yang menyebabkan muslim menganggap dirinya sebagai kelompok superior dan mendiskriminasi perempuan serta orang lain yang memiliki pandangan berbeda. Pola pemikiran seperti itu pula yang menjadi sumber kekerasan, serangan bunuh diri dan terorisme.
 
Alternatifnya: Ijtihad
Kendati demikian ada perbedaan penting di antara kedua perempuan itu. Hirsi Ali adalah seorang aktivis yang merasa wajib membebaskan perempuan Islam dari semua tradisi yang menindas dan memperingatkan dunia Barat tentang bahaya Islam politik. Hirsi Ali tak banyak berkecimpung dalam gerakan reformasi Islam. Menurutnya reformasi Islam suatu hal yang mustahil. Irshad Manji justru sebaliknya dan menyatakan dirinya seorang reformis. Berita baiknya adalah, kata Manji, bahwa tafsiran fundamentalis, anti demokrasi dan anti perempuan bukanlah sesuatu yang tidak bisa diubah. Ada alternatif lainnya.
 
Alternatif itu menurut Manji adalah kembali menghidupkan Ijtihad, yaitu tradisi muslim yang berpikiran merdeka dan kritis. Tradisi itu mengajak muslim untuk tidak secara mentah-mentah atau harfiah menerima ajaran Islam, namun sebaliknya menyadarkan orang Islam  akan "jiwa" ajaran Islam dan secara berkala menafsirkannya kembali sesuai dengan keadaan sejarah yang berubah-ubah terus. Sayangnya tradisi Ijtihad itu di abad 11 terdesak dengan pandangan ortodoks yang secara harfiah menerapkan ajaran Islam. 

Salah orang Islam sendiri
Ketidakmampuan muslim untuk turut ambil bagian dalam dunia moderen saat ini bukan karena faktor luar seperti kolonialisme, melainkan karena adanya penindasan terhadap pandangan bebas dan kritis. Manji menantang kaum muslim untuk kembali menentukan nasibnya sendiri dengan mengembalikan pandangan bebas dan kritis guna 'memperbaharui' Islam untuk abad 21. Ia sanggup berjuang menyebarkan Itjihad, sampai semua orang mengenalnya seperti halnya kata Jihad, perang suci.
 
Yang mencolok adalah bahwa imbauan Manji untuk mereformasi Islam itu tidak radikal ataupun asli. Seruannya untuk membuka kembali 'gerbang Ijtihad' dan pendapatnya bahwa orang Islam sendirilah yang bertanggungjawab atas terpuruknya Islam saat ini, merupakan seruan para pencetus reformasi Islam sejak abad 19.
 
irshad_manji_boek_180.jpgMembutuhkan kritik
Tetapi jika seruan Manji untuk mereformasi Islam bukan sesuatu yang istimewa lagi, lalu mengapa dia menjadi sosok kontroversial di kalangan muslim? Selain pengakuan homoseksualitasnya ia juga secara provokatif mendukung apa yang dipandang muslim sebagai serangan terhadap Islam: mulai dari invasi Amerika Serikat di Irak hingga publikasi karikatur Nabi Muhammad di Denmark. Hal itu pulalah yang kembali menyamakannya dengan Ayaan Hirsi Ali dan membedakannya dari kebanyakan muslim modern yang mengkritik Islam tradisional, namun menolak serangan Barat yang dianggap 'oriental' terhadap agamanya.
 
Seperti halnya Hirsi Ali, Manji juga mendorong kaum cendekiawan Barat mengkritik Islam. Menurutnya kritik itu sangat dibutuhkan untuk membawa pembaharuan yang dibutuhkan. Di Barat filsafat multikultural, menurut Manji, sudah ditingkatkan menjadi pandangan ortodoks, yang seperti halnya aliran agama ortodoks lainnya, selalu mengintimidasi dan membungkam orang, sehingga tidak berani menyuarakan apa yang mereka pikirkan. Orang-orang Barat takut dicap rasialis jika mengkritik Islam. Namun mengkritik Islam untuk membela hak asasi manusia bukanlah tindakan rasialis. Budaya, tambah Manji, layak dihormati selama budaya itu juga menghormati.

Kata Kunci: ijtihad, irshad manji

Reaksi:


papa_defung, 07-05-2008 - Indonesia

Kalau kita baca bukunya, saya termasuk orang yang tidak percaya bahwa dia itu seorang muslim. Beliau seperti tidak percaya bahwa al Quran adalah wahyu Allah. Beliau berjalan dengan pemikiran dirinya sendiri, atau mungkin juga beliau tidak tuntas membaca al Qurannya, dan menafsirkannya sepenggal-sepenggal saja. Untuk kaum muslimin janganlah terpangaruh dengan buku ini. Ini adalah bagian dari pemikiran dan ungkapan perasaan seorang yang mengatasnamakan Islam. Kita terus pegang teguh firman Allah dalam al Quran yang sudah tidak ada keraguan lagi bagi orang yang beriman. Irshad Manji sepertinya ragu akan kebenaran al Quran... dan al Quran sendiri telah menjawabnya dalam surat al Mu'min ayat 4 yang artinya "Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang kafir. Karena itu janganlah engkau tertipu oleh keberhasilan usaha mereka di seluruh negeri"


noer komari, 07-05-2008 - indonesia

ass. wr. wb. Islam adalah agama yg lurus. Luruskan Islam tidak hilang karena perilaku pelaksana Islam itu sendiri (muslim). Islam tidak bisa dipahami hanya sepenggal dengan perbandingan yang relaitas. Sebab realitas bisa salah dan mengecoh. Realitas bisa menyimpang. Begitu juga cara berfikir juga bisa salah. Setipa kita manusia mempunyai cara berfikir yang berbeda, dan itu dihargai dalam Islam. hanya saja berfikir yang diluar batas, tatanan cara berfikir akan sangat berbahaya. Sebab kemampuan berikir kita sangat dipengaruhi oleh masa lalu berupa ingatan dan pengalaman, atau masa kini berupa perasaan dan sikap jiwa atau masa akan datang berupa keinginan dan harapan. Nah mana yang kita jadikan rujukan. Islam memberikan batasan dalam hal ini. Pengalaman menjadi acuan untuk hal hal yang memberi nilai manfaat. Perasaan dan prasangka yang tidak baik tidak boleh menjadi dasar pijakan berfikir. Harapan dan keinginan setiap kita berbeda sehingga tidak boleh jadi acuan dan rujukan. Bagaimana menurut anda????


ade tanesia pandjaitan, 17-04-2008 - indonesia

Saya salut dengan keberanian Irshad Manji dalam mengungkapkan fakta sejarah dan kekritisan yang luar biasa. Yang saya juga kagumi, ia tidak meninggalkan Islam. Ia ingin berjuang dan optimis bahwa arus utama Islam bisa berubah. Butuh keberanian pada umat Islam untuk membaca pemikirannya. Untuk tidak terus mempersalahkan pihak lain, tetapi juga berkaca dengan diri kita sendiri. Mempersalahkan pihak lain dan menganggap diri paling benar sama dengan menyuburkan ladang pembunuhan terhadap sesama atas nama Allah.


Yuli Zuardi , 04-11-2006 - Indonesia

Ijtihat terhadap persoalan zaman memang perlu dilakukan selama bumi ini berputar. Karena setiap zaman memerlukan jawaban berbeda dari masalah-masalah dan orang-orangnya yang silih berganti. NAMUN yang perlu diingat, khusunya bagi orang muslim, agar dapat memilah hal yang subtansi dan yang bukan subtansi. Tidak soal ada yang menelaah persoalan zaman sampai ke ujung langit. Tapi membiarkan orang-orang dengan semaunya melecehkan yang sakral dan diyakini oleh sebagin orang lain jelas KULAR DARI KORIDOR yang seharusnya. Islam memang memiliki tantangan berat di abad ini, sudah semestinya para cendikiawan muslim dapat menemukan jalan baru dan jawaban baru masalah-masalah sosial. Kecuali soal TAUHID! kerena ketauhidan bukan sekedar rasio...! Salam dari Aceh


sutan, 03-11-2006 -

why you deleted my coment?, I posted it again here becaus I believe people are free to express themselves -======= membaca tulisan anda dan mengacu ke judul tulisan yang ada pilih. apakah yg anda maksud dg pemikir muslim modern? apakah seseorang yg memikirkan islam secara "modern" seorang muslim yg menurut anda modern? ini sebuah kerancuan yg serius. Manji memerangkap pembaca dan kaum yg pro terhadap dia dg melabelkan dirinya sbg seorang muslim? dia bukan seorang muslim karena definis muslim itu tidak ada padanya. Saya heran, apa yg mau anda jual dg tulisan ini.


sutan, 03-11-2006 - belanda

membaca tulisan anda dan mengacu ke judul tulisan yang ada pilih. apakah yg anda maksud dg pemikir muslim modern? apakah seseorang yg memikirkan islam secara "modern" seorang muslim yg menurut anda modern? ini sebuah kerancuan yg serius. Manji memerangkap pembaca dan kaum yg pro terhadap dia dg melabelkan dirinya sbg seorang muslim? dia bukan seorang muslim karena definis muslim itu tidak ada padanya. Saya heran, apa yg mau anda jual dg tulisan ini.


ali nasrun, nasrun@freenet.de, 26-10-2006 - germany

Kalau kita meneliti bagaimana melebarnya ajaran agama islam tidak heran , kalau Islam mengalami defisit dalam pandangan masyarakat moderat. Islam desebarkan oleh golongan pedagang dan bukan dari golongan atas atau elite pada waktu itu. Penyebar islam takut melakukan kesalahan dalam menyebarkan Islam. Sehingga sifat konservatipnya sangat menonjol. Tidak salah kalau sifat hati-hati tetap dipegang oleh kaum pedagang dalam melebarkan islam. Kita tidak perlu me-modernkan Islam. Islam bukan mode atau produk pemikiran orang banyak. Islam adalah agama. Yang menjadi problem , kita harus membedakan atau dapat memisahkan antara ajaran Islam dengan intepretasinya yang asli dan hasil pemikiran penganutnya(ulamanya). Dalam agama sering pemikiran atau inspirasi penganutnya merubah dan makna agama itu. Agama tidak bisa dirobah atau berusaha meng-intepretasikan dalam bentuk lain. Sebab dengan demikian bukan lagi agama tapi tidak lain adalah hasil inspirasi manusia biasa. Kita harus meng-tafsirkan Islam sesuai dengan ajaran islam dalam al-Quran. Yang membuat Islam dalam banyak aliran atau pemikiran, karena manusia berusaha main tawar-menawar. Ada golongan yang menambah, tapi ada juga golongan yang mengurangi dengan mentafsirkan salah. Dengan kata lain dapat kita katakan: �??Islam semau gue�??. Setiap kali kita mengikuti ceramah atau dakwa Islam, selalu hasilnya tidak pernah 100% sama. Akibatnya masa demi masa timbullah bermacam-macam aliran.


Berikan tanggapan Anda



Nama
Email
Alamat email tidak ditampilkan
Alamat email ditampilkan
URL
Kota
Negara
Komentar
  Ketiklah huruf-huruf di bawah ini dalam kotak teks guna mencegah email SPAM
 
Kirimkan salinan komentar ini ke email saya