Radio Nederland Wereldomroep

Bahasa Indonesia > Tema > Masyarakat Multikultural > Migrasi

Sobron Aidit

dari Belitung sampai Paris

Bari Muchtar

11-10-2004

Dir-Pak-Simon.jpg

Sobron Aidit

Sobron Aidit dilahirkan 2 Juni 1934 di Belitung, Sumatera Selatan, dan meninggalkan Indonesia pada 1963 untuk bekerja di Tiongkok. Pada tahun 1965 terjadi peristiwa besar apa yang disebut G30S. Orang-orang yang berkaitan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Indonesia ditangkapi dan yang tinggal di luar negeri terhalang pulang. Adik kandung DN Aidit itu termasuk di antaranya. Berikut bagian pertama rangkuman wawancara dengan sastrawan yang sampai sekarang masih aktif menulis. Wawancara ini sudah disiarkan dalam acara masyarakat multikultural.

Ke Tiongkok
Sebelum berangkat ke luar negeri adik Ketua CC PKI ini bekerja sebagai guru/dosen dan wartawan. Dia antara lain mengajar di sekolah SMA THHK (Tiong Hoa Hwee Kwan) dan di Akademi Sastra Multatuli, yang didirikannya bersama Prof. Bakri Siregar. Sebagai jurnalis dia bekerja antara lain untuk Harian Rakyat dan Bintang Timur. Pada 1963 Sobron berangkat ke Tiongkok. Di sana dia tetap bekerja di bidang pengajaran bahasa dan sebagai jurnalis antara lain di Peking Review. Pada saat Gerakan RBKP (Revolusi Besar Kebudayaan Proletar) dia berhenti bekerja dan disuruh turba (turun ke bawah). Seusai RBKP tahun 1979 Sobron bekerja di Radio Peking sebagai penyiar dan redaktur.

Pindah ke Paris
Setelah habis kontrak pada tahun 1980 Sobron mau pergi dari Tiongkok tapi belum tahu mau ke mana. Dia ingat pesan alhmarhumah istrinya yang mengatakan: "Pergilah dari sini!." Semula di terpikir mau ke negara yang berbahasa Inggris seperti Kanada. Sempat juga terpikir mau ke Hongkong, tapi takut diekstradisi ke Indonesia. Terus ada yang mengusulkan agar ke Paris saja karena di sana belum banyak orang Indonesia. Akhirnya dia berangkat ke Paris padahal sangat buta soal Prancis. "Kami nggak tahu dunia Paris itu. Satu patah bahasa pun ndak tahu," tandas Sobron.  Begitu tiba di negeri itu, dia dikursuskan bahasa Prancis di semacam pusat penampungan para pengungsi. Setelah itu mereka dilepas untuk berdikari.

Membuka restoran Indonesia
Lalu muncul beberapa ide antara lain untuk membuka toko buku, toko rempah-rempah atau warung keliling. Tapi semua ini tidak bisa menyuplai lowongan kerja yang banyak, karena mereka berjumlah 11 orang. Akhirnya diputuskan untuk mendirikan restoran Indonesia secara kolektif. Alasannya karena restoran banyak menyerap tenaga kerja dan dinilai bisa menguntungkan. Selama enam bulan tiap hari pak Sobron bersama sesepunya pak Umar Said mencari lokasi untuk dijadikan restoran. Untuk mengerti soal menu mereka mendatangi restoran-restoran yang ada.  Menunya kadang-kadang mereka bawa untuk dianalisa. Selain itu mereka juga mempelajari strategi letak restoran. "Apakah di sekitar itu banyak pegawai, buruh, mahasiswa dan lain-lain." jelas pria kelahiran Belitung ini.

Kebanyakan dari mereka tidak ada yang berpengalaman membeli dan mengelola restoran. Tapi untungnya mereka dibantu oleh teman-teman orang Prancis. Beberapa kali mereka hampir mengambil alih beberapa restoran tapi dibatalkan, karena berbagai alasan. Misalnya, karena tempatnya dekat lokasi pelacuran atau karena gedungnya akan digusur. Sobron: "Jadi, yang nggak jadi ini beberapa kali." Akhirnya mereka menemukan sebuah restoran yang cocok lokasinya. Namanya restoran Madras. 'Orangnya sudah tua-tua, nggak mau lagi mengurusnya," tutur Sobron. Lokasi restoran ini sangat strategis dan menguntungkan, karena tempat itu ramai dilewati orang dan di kawasan tempat orang makan. "Itu 'bubu' yang baik sekali telaknya. Kalau bahasa Belitung kami, sebuah 'sero' yang letaknya sangat strategis untuk ikan masuk." tegas sastrawan ini. Maka pada 14 Desember 1982 berdirilah sebuah restoran "Indonesia" di pusat keramaian kota Paris.

Kolektif
Restoran ini adalah restoran kolektif yang dananya dipinjam dari bermacam-macam sumber, terutama dari Belanda. Tapi ada juga sumbangan misalnya dari gereja Katolik. Selain itu para pendiri restoran, yang tediri dari enam orang, juga menggunakan uang tunjangan selama dua tahun yang diterima dari pemerintah Prancis.  "Jadi kami beberapa orang, enam orang pada waktu itu, disatukan menjadi uang kami punya hak dua tahun itu ditumpukkan." tandas Sobron dengan semangat. Di samping itu mereka juga mendapat bantuan dari teman-teman termasuk teman-teman orang Prancis. Mereka mendapat simpati dan bantuan dari orang Prancis karena mereka menciptakan kerja untuk para pelarian politik. Ini berarti mengurangi beban pemerintah Prancis. Ini semua berkat kesungguhan dan kejujuran, sehingga rakyat dan pemerintah Prancis sangat simpati. Sobron: "Bung barangkali sudah tahu bahwa presiden Mitterand sangat bersimpati. Sampai istri presiden enam atau tujuh kali makan di situ." tandas Sobron dengan semangat yang sama. 

Diboikot dan diprovokasi
Sebelum lengsernya Soeharto sangat jarang orang dari Kedutaan Republik Republik Indonesia (KBRI)  makan di restoran itu. Malah ada semacam seruan dari menlu Mochtar Kusumaatmaja agar para diplomat tidak makan di restoran "orang-orang PKI" itu. Tapi menurut Sobron ada saja diplomat yang diam-diam makan di sana. Sobron: "Orang yang mau makan itu tidak berpolitik. Pokoknya enak. Mereka tetap mau makan ke restoran kami, "ujar Sobron.  Pihak restoran tentu saja menyambut mereka dengan baik. Namun ada juga di antara para diplomat itu yang sinis. Pernah seorang diplomat menanyakan kenapa bahan makanannya dibeli di Belanda, bukan di Indonesia. Ketika dijawab: "Karena itu tidak praktis", mereka berkata bernada provokatif: "Ah bilang aja kalo takut pulang, " cerita Sobron. Tapi para pemilik restoran berusaha agar jangan terpancing.

Pasca Soeharto, hubungan membaik
Namun setelah Soeharto tumbang, hubungan antara para pemilik restoran itu dengan KBRI sangat baik. Sobron: "Pernah baru-baru ini dua dubes sekaligus, dari Belanda sama dari Prancis, dua-dua datang," tutur Sobron. Jadi hubungannya sangat baik. Karena apa? "Karena kami tidak pernah memusuhi mereka. Yang memusuhi kami mereka," jawabnya. Lagi pula sifat ramah tamah dan baik hati harus dimiliki oleh orang restoran. "Itulah yang diajarkan kepada kami selama puluhan tahun ini," tegas Sobron.

Kata Kunci: Sobron Aidit

Reaksi:


Halaman: 1 | 2 | >

Hanna Andriani, lazialita86@yahoo.com, 04-03-2009 -

Saya mengagumi beliau. Sejak membaca bukunya yang berjudul "Gajah di pelupuk mata", saya langsung jatuh hati dengan gaya beliau bertutur.


dedi, 19-11-2008 - indonesia

Om Sobron itu beragama apa? dulunya katanya suka gemar mengaji, mengagi pada pak Haji Jafar


adi prolzzzzzzzzz, 20-06-2008 - indonesia

selamat jalan bung sobron semoga jasamu selalu diingat. sinisnya "cercaan-cercaan" itu hanyalah angin lalu yang hanya mengelitik telinga kita, para orang2 yang menginginkan perdamaian dalam kemanusiaan saya akan terus mendukung pembebasan tapol-napol. terima kasih.


Irsa R. Rachim, flamboyan7@hotmail.com, 02-10-2007 - Indonesia

Saya ingin mencari alamat anak2 Om Sobron. Beberapa kali Om Sobron datang ke rumah kami di Jakarta antara tahun 1993 - 2000. Ayah kami (almarhum) adalah kerabat dekat & sama2 berasal dari Tanjung Pandan, Belitung. Dalam beberapa kesempatan beliau juga mengundang kami untuk datang ke Paris. Namun belum pernah terwujud hingga kini. Lewat kontak ini, kami mencoba untuk menjalin kembali silaturahmi yang terputus selama puluhan tahun.


kusno, mehonk_7@yahoo.com, 06-08-2007 - indonesia

om sobron selamat berjuang...salam untuk keluaarga besar Alm.AIDIT


BUDI, 01-07-2007 - indonesia

kenapa pak sobron gk pulang aja ke indonesia saja toh soeharto pun udah sekarat. saya pun keturunan pki dan hidup enak di indonesia pulanglah dan dirikanlah sebuah partai baru di indonesia tapi bukan pki tapi partai pro rakyat


BUDI, 01-07-2007 - indonesia

kenapa pak sobron gk pulang aja ke indonesia saja toh soeharto pun udah sekarat. saya pun keturunan pki dan hidup enak di indonesia pulanglah dan dirikanlah sebuah partai baru di indonesia tapi bukan pki tapi partai pro rakyat


swara aidid, 10-04-2007 - indon

bung sobron tulisan2nya enak, mengalir, ringan. sayang sastrawan ini tidak dibicarakan dalam peajaran tokoh sastra di sekolahan. selamat jalan bung, padahal saya ingin belajar ngaji pada anda, katanya anda dulu khatam al quran.


Aris Retnanto, 24-03-2007 - Indonesia Raya

Pejuang Kemanusiaan dan Figur Revolusioner bagi Orang Muda Indonesia yang mempunyai Jiwa Nasionalis murni dan Progresif. Meskipun Jasad menyatu dengan bumi, namun Semangat dan Daya pemikiran, keberanian serta perjuanganmu akan tetap bersama kami... God Bless You my Friend.


ivan bandung, 17-03-2007 - indonesia

selamat jalan, bapak sastrawan indonesia. engkau dikucilkan dari negeri indonesia oleh rezim yang sekarang tengah dilanda azab "hidup segan-mati tak mau". semoga tuhan memberi jalan yang lurus untuk meneruskan kehidupan yang kekal dan abadi.


ribut, 14-03-2007 - indonesia

seorang bapak telah pergi meninggalkan kami yang tak pernah mengenalnya dengan baik. seorang yang jujur telah pergi jauh dari hadapan kami, generasi yang tak pernah tahu akan kebenaran sejarah yang diotak-atik oleh politik. terima kasih bapak kami yang tercinta. tuhan tak pernah hentinya memberikan cinta-Nya padamu yang dengan setia tetap jujur.


krisna nica, 08-03-2007 - indonesia

turut berduka cita atas meninggalnya Bung Sobron. saya adalah salah satu simpatisannya. saya harap orang banyak akan terus mendukung pembebasan tapol-napol. terima kasih.


basar siahaan, 23-02-2007 -

Selamat jalan Bung Sobron, Kemanusiaan tidak pernah mati. Kemanusiaan adalah satu .Hidup kemanusiaan.


basar siahaan, 23-02-2007 -

Selamat jalan Bung Sobron, Kemanusiaan tidak pernah mati. Kemanusiaan adalah satu (Bung Karno)


kustoro hariyatmoko, kust_hr@yahoo.com, 13-02-2007 - indonesia

"SELAMAT JALAN OM SOBRON, KARYAMU AKAN TETAP BERGUNA BAGI ANAK-ANAK BANGSA"


Halaman: 1 | 2 | >

Berikan tanggapan Anda



Nama
Email
Alamat email tidak ditampilkan
Alamat email ditampilkan
URL
Kota
Negara
Komentar
  Ketiklah huruf-huruf di bawah ini dalam kotak teks guna mencegah email SPAM
 
Kirimkan salinan komentar ini ke email saya