Karima Tieleman berubah dari laki-laki menjadi perempuan dan enam tahun kemudian memeluk agama Islam. Tetapi di kalangan muslim pun ia tidak diterima seperti diharapkannya. Sudah menjadi nasibnya bahwa ia tidak diterima oleh lingkungannya dan harus melawan penolakan. 'Saya senang dengan kehidupan saya, tetapi berjuang terus kadangkala melelahkan juga.' Demikian Karima.
Tabu
'Sebenarnya saya seorang gadis', katanya. Dia sudah sadar akan hal itu ketika berusia delapan tahun, tetapi baru menceritakannya kepada orangtuanya di masa akil balig. Mereka terkejut dan membawanya ke dokter. Di tahun 1980an abad lalu, transseksualitas, berubah kelamin, merupakan tabu besar.
Karima dirawat di bagian psikiatri sebuah rumah sakit di kota Utrecht, Belanda tengah. Ia menjalani masa-masa kelam. Ia tidak tamat sekolah menengah - yang juga tidak menerima keadaannya -, ia mencoba bunuh diri dua kali. Satu-satunya yang menerimanya adalah adik perempuannya.
Merasa hidup
Karima Tieleman, 31 tahun, mengenakan jilbab hitam, berbicara dengan lirih dan tampak malu. Setelah mempertimbangkannya cukup lama ia memutuskan untuk menceritakan kisah hidupnya.
Ketika berusia 17 tahun Karima memutuskan untuk tidak lagi melawan dunia tetapi hidup sebagai seorang laki-laki saja. Ia bekerja di perkebunan dan di malam hari ia pergi ke diskotek, melihat kaum perempuan yang baginya tidak mempunyai daya tarik.
Itulah gaya hidupnya selama tiga tahun, tetapi akhirnya dia tidak tahan lagi. Dia memilih mewujudkan keinginannya. Di rumah sakit akademis Vrije Universiteit Amsterdam, VU, ia mendapat dukungan. Di sana sudah tersedia pakar-pakar dalam bidang transseksualitas. Di sana pula untuk pertama kalinya ia diberitahu bahwa keinginannya bisa dikabulkan: ia dapat mempersiapkan diri untuk hidup sebagai seorang gadis. Beberapa tahun kemudian, ketika berusia 24 tahun, Karima menjalani operasi dan dia menjadi perempuan. Ia kemudian bekerja di toko sepatu di Rotterdam. 'Saya merasa hidup setelah operasi itu', katanya.
Tetapi kehidupannya tidaklah gampang. Teman-teman barunya menyingkir semua segera setelah mendengar kisah Karima. Ia juga tidak beruntung dalam asmara. Ia dibohongi oleh pacarnya yang ternyata sudah menikah pula. Sejak itu dia tahu bahwa seumur hidupnya ia akan ditolak. Karena itu dia tidak mau lagi berasmara.
Bertobat
Tahun lalu untuk 'kedua kalinya' dia bertobat. Di toko sepatu tempat kerjanya dia menjalin hubungan baik dengan para pelanggan keturunan Maroko. Mereka adalah perempuan-perempuan muda berjilbab yang bercerita tentang Islam. Karima merasa diterima oleh perempuan-perempuan itu dengan cara yang asing baginya. Dan itulah yang merupakan daya tarik Islam baginya: 'Islam menerima orang apa adanya'. Akhirnya dia memutuskan untuk bertobat. Ia pergi ke sebuah mesjid dan bersyahadat.
Kini dia menyandang nama Arab, Karima, dan hidup sebagai muslima. Tapi bukan sembarangan muslima: ia menggarisbawahi kepercayaannya melalui penampilan: nikab hitam dan kaos tangan hitam.
Tetapi Karima tetap ditolak. Di jalanan ia kerapkali dicerca karena penampilannya. Tetapi di kalangan muslim sendiri pun dia ditolak. Di mesjid tempat dia bertobat, baik kaum perempuan maupun laki-laki tidak mau bersolat bersamanya. Imam yang sedikit mengerti keadaannya memberikan solusi: ia menyediakan tempat khusus untuk Karima, jadi tidak bersama kaum perempuan maupun laki-laki. Memang maksudnya baik, tetapi itu justru menyedihkan Karima, karena dia hanya bisa menuju ruangan khusus itu melalui pintu masuk kaum pria.
Agama dan budaya
Karima akhirnya pergi ke mesjid lainnya dan tidak menceritakan kisah hidupnya. Tetapi belum lagi seminggu desas-desus sudah beredar. Ia dipanggil oleh imam yang secara blak-blakan bertanya apakah ia masih mempunyai kelamin laki-laki. 'Tidak!' jawabnya, 'Saya 100 persen perempuan, seperti tercantum dalam paspor saya!' Imam menerimanya dan mengijinkan dia bersolat bersama kaum perempuan. Mereka juga menerimanya. 'Anda perempuan, karena anda bukan laki-laki,' kata mereka dan dengan demikian selesailah sudah masalahnya. Tetapi berangsur-angsur orang-orang di sekelilingnya makin berkurang. Kaum perempuan tidak lagi datang ke mesjid karena dilarang oleh suami mereka, gara-gara Karima. Lagi-lagi ia keluar dari mesjid itu.
Karima memeluk Islam karena merasa diterima. Tetapi kini ia dikejar dan ditolak oleh kaum muslim. Bagaimana mungkin? Karima merenungkannya dan akhirnya menyimpulkan bahwa agama Islam berbeda dari budayanya. Islam itu baik, mengampuni dan menerima dirinya. Tetapi budaya Islam banyak kekurangannya. Kalau orang Belanda menegurnya soal Islam, dan dia harus memberikan keterangan tentang teror Islam, ia memberikan jawaban yang sama. 'Hal-hal yang jelek terdapat di mana-mana,' katanya. 'Tetapi teror tidak ada kaitannya dengan Islam. Islam justru melarang kita melakukan hal-hal itu!'
Berjuang terus
Kini Karima bersolat di pelbagai mesjid di Den Haag dan Rotterdam. Walaupun bermasalah dengan saudara-saudara seimannya, hubungannya dengan Allah tetap baik. Kadangkala Karima berjam-jam di mesjid berkomunikasi dengan Allah. Ia bisa mengerti sikap orang-orang yang menolaknya. 'Alhamdulilah, saya bahagia dengan kehidupan saya. Tetapi kadangkala melelahkan karena setiap hari harus berjuang.'
Kata Kunci: anda perempuan, berubah kelamin, islam, karima, ranesi, rnw, tabu, transseksual, transseksual muslim, transseksualitas
