16 November 2025. Jalan tol Bandung dan Jakarta. Enda Ginting sedang dalam perjalanan mudik lebaran. Dengan bangga ia mengendarai mobil barunya, Honda Volta. Sejak kesepakatan yang dicapai dalam Konferensi Perubahan Iklim di Bali 2007, semua mobil berjalan dengan tenaga listrik.
Gambaran masa depan di atas mungkin masih sebatas angan-angan. Namun demikian, kendaraan bertenaga listrik, mulai banyak dibicarakan. "Mobil listrik sangatlah ramah lingkungan. Tidak mengeluarkan gas CO2 dan juga bahan-bahan polusi lainnya. Selain itu mobil ini tidak mengeluarkan suara", kata Peter Oei, seorang peneliti Belanda.
Namun demikian, teknologi mobil listrik ini belum praktis. Diperlukan waktu berjam-jam untuk mengisi aki mobil listrik. Selain itu, mobil listrik terbaik pun hanya bisa menempuh jarak beberapa ratus kilomoter sebelum kemudian akinya kosong kembali. Karena inilah, pembuatan mobil listrik dalam skala besar masih belum mungkin.
Listrik Cair
Sebuah tim peneliti di Utrecht Belanda sedang mengembangkan sebuah inovasi untuk merealisasikan mobil listrik. Menurut mereka, listrik cair bisa jadi jalan keluar. Dengan listrik yang berbentuk cair, pengisian aki mobil listrik bisa dilakukan seperti layaknya di pompa bensin. Apabila berhasil, teknologi ini bisa dinikmati oleh manusia di segala penjuru dunia. Jadi, nantinya pengisian aki mobil listrik tidak akan memakan waktu berjam-jam.
Keuntungan lain, bahan bakar listrik jauh lebih efisien dibandingkan bensin atau solar. Kebanyakan energi yang berasal dari bensin hilang dan hanya 20% yang benar-benar menggerakkan roda. Dengan tenaga listrik, tingkat efisiensi bisa mencapai 60 persen. Ini menjadikan mobil listrik tiga kali lebih ramah lingkungan. Bahkan walau listrik ini dihasilkan dengan cara yang tidak ramah lingkungan, mobil listrik masih tetap lebih baik dibandingkan mobil dengan bahan bakar bensin atau solar.
100% Ramah Lingkungan
Yang lebih menarik dari ide inovatif ini adalah dilibatkannya para petani dalam proses produksi listrik cair. Para pengusaha pertanian di seluruh dunia bisa memproduksi listrik cair ini melalui berbagai cara. Pengusaha perkebunan gandum yang tinggal di daerah berangin Minnesota, Amerika Serikat misalnya, bisa memasang kincir angin. Dan pengusaha perkebunan teh di Jawa Barat bisa memasang panel surya di sela-sela perkebunan tehnya.
Listrik cair yang mereka produksi bisa dijual kepada para pengendara mobil listrik yang kebetulan melintasi perkebunan mereka. Untuk itu, stasiun listrik akan dibangun di wilayah perkebunan atau pertanian. Dibutuhkan satu alat yang disebut Elektrolyt, yang akan bisa menampung listrik dalam bentuk cair.
"Teknologi ini baru dalam tahap awal pengembangan. Penerapannya masih sangat terbatas, belum sampai pada mobil", kata Pieter Oei. Tapi, penelitian di Belanda ini bisa menjadi langkah penting untuk merealisasikan mobil listrik untuk masa depan.
Kata Kunci: Bali, konferensi iklim, mobil listrik, panel surya, ramah lingkungan, tenaga listrik
