Kerusakan yang dialami candi Prambanan akibat gempa bumi 27 Mei lalu cukup parah, walaupun mungkin tidak tampak langsung. Itu berarti perbaikan candi agama Hindu ini tidak bisa hanya mengembalikan batu-batu yang runtuh, tetapi dibutuhkan operasi yang lebih menyeluruh lagi. Operasi apa saja itu? Berikut penjelasan Prof. Timbul Haryono, guru besar arkeologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Cukup parah
Timbul Haryono[TH]: 'Dampaknya terjadi kerusakan-kerusakan pada bangunan Candi Prambanan, maupun beberapa candi di sekitarnya. Candi Plaosan, kemudian Candi Sojiwan yang sedang dipugar itu. Beberapa batuannya pada runtuh'.
Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: 'Seberapa parah menurut Pak Timbul kerusakan-kerusakan itu?'
TH: 'Saya kira itu cukup parah. Karena bangunan candi itu kan terdiri dari balok-balok batu. Kalau sebagian sudah melekat pada runtuh, berarti ikatan antara satu batu dengan batu yang lain, kan menjadi tidak kuat lagi'.
RNW: 'Lalu bagaimana Pak untuk memperbaikinya? Bukan hanya menumpuk batunya begitu?'
TH: 'Bukan. Untuk memperbaiki itu batu-batu yang masih tersisa di tubuhnya, itu dibongkar dulu. Kemudian diperkuat dulu struktur bagian dalam dengan beton bertulang, maupun pondasinya barangkali. Dan ini perlu studi pendahuluan. Seberapa jauh pondasi yang sekarang ini masih kuat untuk menyanggah beban bangunan batu-batu candi itu. Dan pembongkarannya pun harus hati-hati satu per satu batu. Diusahakan tidak rusak di dalam pembongkaran itu sendiri. Kemudian dicatat satu per satu tempat aslinya, supaya nanti pengembaliannya tidak mengalami kesulitan'.
Candi Syiwa
RNW: 'Candi Prambanan itu kan terdiri dari tiga candi utama. Bisa bapak terangkan candi mana yang paling rusak dari tiga itu?'
TH: 'Candi yang mengalami kerusakan itu Candi Syiwa, itu yang di tengah yang 47 meter tingginya itu. Kemudian Candi Brahma dan Candi Wahana yang ada di depan candi utama itu'.
RNW: 'Candi itu kalau tidak salah sudah dipugar tahun 1953, Candi Syiwa yang utama itu?'
TH: 'Ya. Untuk Candi Syiwa memang sudah hasil pemugarana pada tahun 1953. Dan pemugaran waktu itu sebenarnya sudah diperhitungkan secara teknis itu cukup kuat. Kemudian yang Candi Brahma, Candi Wishnu dan Candi Wahana itu tahun 1995-an kalau tidak salah. Tetapi gempa ini kan cukup besar kekuatannya'.
RNW: 'Jadi memang sekarang yang masih dipertanyakan adalah kondisi fundamen kedua candi itu?'
TH: 'Ya. dan itu perlu juga diadakan pengukuran secara teliti sekali, apakah terjadi kemeletakan dan terjadi kemiringan. Karena ini sangat bahaya sekali, karena candi itu kan cukup tinggi 47 meter. Kalau derajat kemiringannya sedikit saja, nanti akan berbahaya juga'.
Belum kelihatan miring
RNW: 'Tapi kalau tampak yang dari luar sekarang bagaimana? Apakah sudah kelihatan miring?'
TH: 'Tampak dari luar memang sudah kelihatan kerusakannya. Karena beberapa batu-batu yang runtuh yang lepas dari tempat aslinya kan sudah cukup banyak'.
RNW: 'Tapi belum kelihatan miring?'
TH: 'Kalau dari tampak mata biasa memang belum terlalu kelihatan jelas begitu. Tapi ini kan harus diukur secara cermat sekali. Tampak mata belum tentu pas dengan pengukurannya nanti'.
RNW: 'Ada berita-berita yang mengatakan, Candi Wishnu itu masuk ke dalam tanah sampai 10 cm. Apakah itu bisa dibenarkan?'
TH: 'Itu kan baru perkiraan pengukuran sementara. Dan keterangan ini saya peroleh dari Staf Balai Kota di Propinsi DIY'.
RNW: 'Dengan demikian menurut bapak harus dipasang fundamen baru di Candi Syiwa?'
TH: 'Menurut saya batu-batu yang tersisa masih di atas itu harus dibongkar juga semuanya dulu. Baru nanti diperkuat betul. Kalau hanya sekadar mengembalikan batu yang runtuh, tanpa melalui pengukuran yang teliti, itu juga tidak bisa dipertanggungjawabkan'.
RNW: 'Dulu yang memugar Candi Prambanan di tahun 1953 itu siapa?'
TH: 'Ya pemerintah Indonesia'.
RNW: 'Maksud saya apakah kita bisa tahu waktu itu rencananya seperti apa, membongkar dokumen yang lama?'
TH: 'Ya bisa. Karena setiap proses pemugaran kan selalu ada pencatatan, dokumentasi. Jadi bisa kita lihat foto-foto pada waktu proses pemugaran pada tahun 1950-an itu'.
Demikian Prof. Timbul Haryono, guru besar arkeologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Kata Kunci: prambanan
