Hari yang melelahkan fisik dan mentalku. Rasanya begitu banyak yang harus aku lakukan di luar sana sebelum aku dapat benar-benar meluangkan waktu sendiri berkontemplasi sekaligus menangisi kegagalanku.
Sesak rasanya dada ini, “Tidak mungkin, tidak, ini hanya canda dari Sang Convenor, bukan kata-kata sungguhan”, demikian batinku berkata. “Tapi mungkinkah orang seperti beliau bergurau padaku di saat penting di mana aku harus mendapat izin dan masukannya akan mata kuliahku di term depan?”, kembali aku mencoba bertanya dalam hati. Hatiku benar-benar terguncang dan tidak bisa menerima kabar yang aku dapat.
“Ya, sayang sekali kamu tidak lulus dalam mata kuliah Economic Analysis”, kata-kata Sang Convenor kembali terngiang di telinga dan memenuhi isi kepalaku.
”Benarkah ini, aku dinyatakan tidak lulus dalam salah satu mata kuliah pengantar?”, hatiku mencoba bertanya. Dengan lunglai dan kecewa aku keluar dari ruangan pertemuan kami sore itu dan kembali ke kelas.
”Hei, dari mana Dey? Tadi Rina nyariin lo tuh?” tanya Iwan yang kutemui di dalam kelas kebetulan sore itu kami sedang break kuliah. ”Katanya dia mau pinjam kunci kamar untuk ambil titipan blender yang kemarin”, tambahnya lagi.
”Di mana dia sekarang?” tanyaku dengan tidak bersemangat dan berusaha menutupi kegundahanku.
”Ada di depan kelas”, balasnya lagi .
Segera kuhampiri Rina untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut dari Irwan atas perubahan sikapku.
”Sorry Dey, ganggu kuliah lo, gue mau ambil blender yang kemarin gue titip di kamar lo, boleh?”, sapa Rina.
”Ya boleh donk, tapi gue pisahin dulu kunci kamar dari bundelan kunci ini ya?”, aku balik bertanya, ”Dan tolong taruh kunci kamar gue di mailbox gue di bawah, supaya nanti gue nggak repot cari lo”, tambahku.
”Hatiku memang sedang kalut dan pikiranku tidak tenang, namun aku tidak boleh menunjukkannya di depan teman-temanku”, demikian kata hatiku. Ternyata tidak semudah itu untuk mencoba bersikap wajar, secara tidak sengaja karena gugup kuku tanganku tergores dan patah saat berusaha memisahkan anak kunci dari gantungannya.
”Upss... tanganku berdarah,” kataku dengan sedih dan meringis menahan sakit sambil memberikan anak kunci yang diminta.
”Aduh, Dey, hati-hati, maaf gue udah bikin lo jadi repot nih”, ungkap Rina merasa bersalah.
”Nggak, nggak apa-apa Rin”, kataku mencoba mengurangi rasa bersalah Rina sambil memijit jariku yang terluka.
”Andai saja kamu tahu bahwa hatiku lebih sakit dan terluka karena kabar buruk yang baru saja aku terima”, aku berucap dalam hati dengan sedih.
Segera aku kembali masuk kelas, dosenku sudah hendak memulai paruh kedua kuliah kami. Melewati meja di mana Irwan duduk, kuperlihatan jari tanganku yang berdarah.
”Kenapa?” tanya Irwan.
”Ah, nggak apa-apa tadi kena kunci”, kataku berusaha bersikap wajar. Temanku yang satu ini sangat pandai membaca situasi, dia mengerti betul bahwa aku tidak akan melakukan kecerobohan seperti itu.
”Ada apa sih sebenarnya?”, katanya lagi mencoba mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi.
”Nothing, it’s just something silly happens to me, and I could not understand why is that happen”, kataku mencoba menjelaskan sambil segera berlalu menuju tempat dudukku.
Paruh kedua mata kuliah metodologi riset tidak mampu kuikuti dengan baik, konsentrasiku sudah terlanjur buyar. Sayangnya sahabatku Irwan terlalu jeli untuk tidak melihat hal tersebut.
“Ada apa sih sebenarnya?”, katanya tidak mau menyerah. “Lo nggak biasanya begini deh”.
“Sudahlah, sama gue ini masa’ lo nggak mau ngomong…”, kejarnya lagi.
Hatiku yang sedang sedih mencoba untuk kuat dan berusaha bersikap tenang. “No, nothing, it’s just a very silly thing, but embarrassing, I can’t tell you”, jawabku sambil berusaha menghindar darinya.
“Sudah ya, gua cabut dulu, sudah sore belum solat asar nih”, kataku memberi alasan jitu.
“Ok, ok, kalau itu maumu, tapi nanti cerita-cerita ya?” katanya tidak mau kalah.
Aku segera berlalu, dan tiba-tiba merasa sangat malu dan bodoh di depan teman-temanku. Mana mungkin aku bisa bercerita tentang kegagalanku? Aku terlalu tinggi hati sekaligus malu untuk membaginya.
”Sudah begitu bodohkah aku? Begitu parahkah kesalahan yang aku buat sehingga aku dinyatakan gagal? Apakah aku telah salah dalam beradaptasi dengan pola belajar di negeri orang? Ah tidak, pasti soalnya yang salah, seumur hidup aku belajar di bangku kuliah tidak pernah menghadapi soal pilihan ganda untuk mata kuliah ilmu sosial”, pikirku mencoba menganalisa dan menyalahkan si pembuat soal. Aku tercenung sore itu di ruang musola kampus.
Sia-sia rasanya tiga bulan menjalani kuliah di negeri orang, merelakan berpisah dari anak pertamaku yang sedang tumbuh dan suamiku yang sedang meniti karir di kampung halaman. Sedih dan hancur rasanya hati ini memikirkan bahwa dengan kabar kegagalan ini, aku seakan-akan telah mengkhianati kepercayaan kedua insan yang sangat kukasihi dan dengan penuh ikhlas melepasku pergi menuntut ilmu di tempat yang jauh.
Ah, tidak kuasa lagi rasanya aku menahan air mata ini. ”Hei... tahan dulu air matamu, kamu masih harus menjalani dua kelas lagi setelah ini, tenangkan diri sedikit, jalani sisa hari ini dengan tenaga dan pikiran yang tersisa”, hati kecilku mencoba menasihati dan menata rasioku, mencegahku dari gelombang emosi yang tiba-tiba menghantamku.
Hari yang melelahkan fisik dan mentalku, hari itu aku kembali ke kamarku saat jarum pendek jam tanganku menunjuk angka 11 malam. Rasanya begitu banyak yang harus aku lakukan di luar sana sebelum aku dapat benar-benar meluangkan waktu sendiri berkontemplasi sekaligus menangisi kegagalanku.
Aku sudah tidak tahan lagi, ”Buat apa aku sekolah jauh-jauh berpisah dengan keluargaku kalau hanya membawa hasil yang mengecewakan seperti ini?”, tanyaku pada diri sendiri. Memang hanya satu kegagalan, namun kegagalan yang sama sekali tidak pernah terpikir kemungkinan terjadinya olehku, ”Kegagalan yang bodoh dan memalukan”, pikirku. Hanya satu hal yang kuinginkan saat ini, membagi bebanku kepada suamiku.
Tiba-tiba ponselku berdering, ”Hmm... dari Irwan”, kataku dalam hati sambil menatap layarnya.
”Ya, halo...”, kataku dengan suara bergetar menahan tangis dan perlahan. Aku tidak dapat menolak untuk menjawab panggilan telepon sahabatku itu.
”Apa kabar? Ada apa sih? Tentang ujian ya?”, tanya Irwan. Memang sulit untuk berkelit dari temanku yang satu ini, dia pandai membaca dan menduga keadaan.
“Hmm… iya, tapi gue nggak mau cerita sekarang, gue mau nangis dan curhat sama suami sekarang”, kataku pelan.
“Ya sudah, kalau begitu, tapi kalau misalkan ada sesuatu yang lo butuhkan jangan sungkan-sungkan kabari gue atau Tita ya”, pintanya. Tita adalah sahabatku yang lain.
“Ya”, jawabku singkat dan mematikan telepon.
Kutuliskan kalimat-kalimat kabar kegagalan dan kekecewaanku di layar ponselku, segera kukirimkan pada suamiku yang entah mengapa dini hari itu di kampung halaman sana belum pula dapat memicingkan mata untuk beristirahat.
”Tenangkan dirimu, Sayang, cobalah untuk fokus pada kuliahmu ke depan, jangan menghancurkan dan menganggap diri lemah dengan kegagalan ini”, segera kubaca pesan balasan dari suamiku.
”Aku tidak dapat berkonsentrasi pada hal berikutnya karena kegagalan ini”, balasku segera.
”Ini menjadikanku lemah dan tidak percaya diri.”
Kutambahkan lagi, ”Aku sedih dan hancur, rasanya telah aku mengkhianati kepercayaanmu dan anak kita.”
Mencurahkan semua kegelisahan, kekecewaan, dan kesedihanku pada suami membuatku merasa mendapat lebih banyak kekuatan untuk menghadapi duka ini.
”Bacalah Al Qur’an, terutama Surat Yassin untuk menenangkan dirimu, Sayang” kembali balasan pesan dari suamiku masuk di layar ponsel.
”Semua hal di dunia ini, termasuk kuliah selalu menghadapi cobaan berat, terutama di tahun-tahun pertama, cobalah untuk mengoreksi dan memperbaiki kesalahanmu” tambahnya lagi.
”Coba bicarakan dengan dosenmu di mana letak kesalahannya”, sarannya lagi.
Ah, suamiku selalu bisa bersabar dan menenangkanku. Ia memintaku untuk bersabar, introspeksi serta mengambil hikmah dari kegagalan ini.
Namun keadaanku tidak serta merta membaik, aku justru menarik diri dari teman-temanku selama dua hari dan terus menerus mengurung diri di kamar. Teman-temanku menyadari telah terjadi sesuatu yang buruk padaku namun tidak tahu dengan pasti apa gerangan.
”Dey, Dey, are you in there, are you feeling ok?” tanya Ina yang mengetuk pintu kamarku.
Aku terlalu egois untuk membagi dukaku, ketukan pintu kamarku oleh Ina tidak mendapati satu jawaban.
Di layar komputerku kubaca pesan dari Tita yang masuk di inbox-ku. ”Dey, kamu kenapa, are you ok dear? Apakah kamu sakit? Please, kabari aku kalau kamu perlu apa-apa ya”.
”Huh, rupanya kabar burukku sudah menyebar”, kataku sambil mengambil nafas panjang dan tetap tidak peduli dengan sikap anti sosialku yang sesaat dan membingungkan teman-temanku.
”Aku tidak ingin menjelaskan apa-apa pada mereka, aku ingin sendiri” ucapku pelanku dalam hati. Aku tidak ingin menangis di depan mereka.
Kembali kuteringat pada wajah anakku, betapa aku semakin menjadi merasa bersalah padanya, telah kutinggalkan ia yang masih sangat membutuhkanku demi melanjutkan sekolah, namun aku telah membuat satu kegagalan, yang menurutku adalah pengkhianatan padanya. Mataku kembali basah dengan air mata. Ingin rasanya aku kembali saja ke kampung halaman, melepaskan semua beban.
Kriiing... kriiing... bel kamarku berbunyi sore itu. ”Siapa lagi sih?”, tanyaku heran. Ternyata sahabatku yang lain, Virna, yang bertubuh agak tambun namun baik hati.
”Halo Dey, sedang apa? Gue lapar nih, dari tadi padi ada kuliah dan belum sempat makan, punya makanan nggak?”
Aku paham, dia bukannya tidak tahu aku sedang ada apa-apa dan sengaja bersikap anti sosial, justru dia memakai ”siasat” ini agar aku mau membuka pintu dan memberinya kesempatan masuk.
Ajaib, kata-katanya barusan di ujung telepon justru membuat aku tergerak untuk menerimanya dan membiarkannya masuk melihat kondisiku yang sedang terpuruk dan ”menikmati” tangis kegagalan, kubukakan pintu bagi sahabatku, Virna.
Walaupun belum lama berkenalan dengan Virna, tepatnya kami baru berkenalan saat menjelang keberangkatan ke negeri ini, sedikit demi sedikit kami mulai saling memahami satu sama lain dan mencoba menjadi sahabat baik. Kubiarkan Virna masuk, dan kupasang tampang dan sikap seolah tidak terjadi apa-apa denganku, namun kurasa Virna cukup baik membaca kondisiku, walaupun aku berusaha menutupi. Ia sama sekali tidak menyinggung apa-apa melainkan hanya keinginannya untuk memasak makanan untuk makan siang kami yang sebenarnya sudah agak telat saat itu.
”Kulkas koq kosong begini...”, demikian selalu ungkapan Virna bila melihat isi kulkasku yang tidak seberapa isinya terlebih jika dibandingkan dengan isi kulkas dan kamarnya yang selalu penuh dengan makanan.
Temanku yang satu ini memang unik, di setiap sudut kamarnya selalu terselip makanan. Kami pernah bercanda satu saat, kami selalu mengakui bahwa kamar Virna adalah kamar terhangat di seluruh asrama, dan ini memang benar.
Saat ia mencoba menganalisa mengapa kamarnya selalu lebih hangat dibandingkan kamar yang lain, aku dengan canda berkata, ”Ya terang aja kamar lo anget, isinya makanan melulu, setiap pojok ada saja makanannya”.
Siang itu aku menjawab kalimat Virna dengan datar, ”Ya, belum sempat belanja, aku hanya ada ikan tuna kalengan dan telur, enaknya masak apa?”
”Hmmm..... bagaimana kalau kita masak tuna orak-arik telur saja?” tawarku.
”Boleh, apa aja yang penting gue makan”, balasnya.
”Gue aja yang masak ya kali ini?” pintanya.
Kubiarkan Virna mengambil alih isi kulkas dan dapurku, dan dia pun sibuk berkutat di dapur memasak makan siang kami yang sebenarnya sudah agak terlambat karena hari sudah menjelang sore.
”Wah, enak nih kayaknya”, kataku melihat hasil masakannya. Mencicipi dan memakan masakan hasil karya orang lain rasanya memang lebih enak dibanding mencicip dan memakan masakan sendiri.
Kami makan siang dan berbincang-bincang ringan sore itu, Virna sama sekali tidak menyinggung tentang kondisiku, dan aku pun memilih untuk tidak menceritakannya.
Malamnya di saat sendiri, tiba-tiba hati kecilku merasa bahwa bukan hal ini yang seharusnya aku lakukan, tenggelam dalam kesedihan, putus asa, dan menjauh dari teman-temanku. Pesan-pesan singkat dari suamiku dua malam yang lalu kembali terbayang di kepalaku.
”Aku sama sekali bukan pecundang, aku adalah orang yang mampu menghadapi kegagalan”, demikian tiba-tiba hatiku berteriak.
Kucoba untuk menelusuri kembali asal usul perjuanganku untuk sampai di negeri ini, bukanlah perjuangan yang sesaat dan mudah, bukan pula tanpa pengorbanan apa-apa.
”Aku tengah memegang kepercayaan banyak pihak dan aku bukan pecundang,” kembali aku mencoba menyadarkan diri.
Ya, sesungguhnya aku harus kembali pada niatku sejak awal, ”Menuntut ilmu adalah amanah dan jihad bagiku”, hatiku mencoba mengais sisa-sisa ketegaran dan semangatku.
”Hasil yang kudapat adalah cobaan bagiku dan sepatutnya membawa banyak hikmah bagiku, apapun itu”, tambahku lagi. Cukuplah memberi ruang bagi kesedihan selama dua hari.
Saat kubuka inbox-ku malam itu, kudapati satu surat elektronik dari suamiku dan seorang sahabatku Yasmin di Jakarta.
Rupanya suamiku mengirimkan salah satu artikelnya tentang tinjauan makroekonomi Indonesia yang merupakan bahan diskusi dengan rekan kerjanya. Allah SWT selalu memiliki cara-Nya sendiri untuk menegur maupun menghibur hati hamba-Nya. Secara tiba-tiba dan tidak dapat dipahami dengan logika, aku tersenyum membaca rangkaian kalimat di artikel suamiku. Senyum akan kontradiksi dan ironi ini, di saat aku gagal dengan ujianku, suamiku justru masih menjadi seorang penulis artikel ekonomi yang baik dan terus berusaha untuk tetap konsisten menulis.
Aku kembali mendapati kesadaran dan keteguhan untuk bangkit dari satu kegagalan yang aku alami. Aku bersyukur, di antara kesulitanku beradaptasi dengan pola belajar di sini dan kegagalan ujianku, ”Ya, Allah, tenyata Engkau masih membukakan banyak kemudahan pada kami, pada suamiku untuk terus dapat menulis artikelnya, dan juga pada anak kami, karena ia terus tumbuh dengan sempurna dan sehat”, ucapku dalam hati.
”Betapa kegagalan yang aku alami tidak lebih dari teguran-Mu atas satu kesalahanku dalam belajar”, diam-diam aku mencoba menyadari dan mengakuinya. Betapa teguran dan cara-Mu terkadang tidak mampu kuterima dengan lapang dada.
Kubaca surat eletronik dari sahabatku Yasmin, ”You go girl, gue udah baca blog lo, bersabarlah dengan kegagalan lo”, tulisnya dalam surat.
”Belajar nih dari pengalaman gue, kegagalan-kegagalan itu sebenarnya banyak banget bisa dipetik hikmahnya. Percaya deh, gagal itu pelajaran berharga banget, justru dengan gagal, lo diberikan petunjuk sama Allah atas kelemahan-kelemahan yang sering kali kita lupa atau tidak peduli kalau belum benar-benar ada pelajaran yang menghentak kita. Sebenarnya juga percaya aja bahwa kegagalan lo itu jalan terbaik lo untuk mencapai sukses terbaik lo. Percaya juga kalau segala sesuatu yang Allah berikan itu baik, asal lo bisa memetik pelajaran dan belajar dari kegagalan itu sendiri”, panjang lebar Yasmin memberiku wejangan.
Aku tersentuh dan terharu oleh semua kebaikan yang Allah berikan melalui suami, anak, dan sahabat-sahabatku yang sungguh bukan saja menjadi penghangat hati di saat senang namun penguat, pengingat, penghibur di saat hati sedang susah. Terima kasih ya Allah atas teguran dan kemurahan-Mu. *
Kata Kunci: akhir, perjuangan
