Radio Nederland Wereldomroep

Bahasa Indonesia > Tema > Budaya

Cindera Mata Menjadi Obyek Seni

Patung Bali dengan gaya art deco

Jean van de Kok

10-08-2006

Liefdespaar-Bali.jpgDi kota tua Delft, Belanda barat, tepatnya di Museum Nusantara dipamerkan karya patung Bali dengan gaya art deco tahun 1930-1970 dengan judul dari cindera mata menjadi obyek seni. Pameran ini sangat menarik karena ternyata di Belanda kita jumpai minat dan apresiasi untuk patung bergaya Bali. Radio Nederland Wereldomroep berbincang-bincang dengan Frans Leidelmeijer seorang keturunan Indo-Belanda, pakar seni art deco dari Bali dan penyusun pameran patung art deco Bali.  

Art deco adalah aliran seni yang lahir pada tahun dua puluhan abad lalu. Art deco ini juga merupakan disain yang menanggapi aliran sebelumnya yaitu art nouveau atau aliran baru kalau diterjemahkan bebas. Di Indonesia art nouveau dikenal juga sebagai aliran semarangan cirinya adalah garis-garis menggelombang dengan bunga. Gaya ini juga terlihat pada sisa-sisa bangunan kolonial di Indonesia. Gaya art deco adalah lebih sederhana, lurus dan abstrak.

Ketika mendalami kedua aliran ini yaitu art deco dan art nouveau, ia menemukan elemen Indonesia dalam disain tersebut, misalnya batik asal Indonesia yang kemudian diberi disain baru. Dalam berbagai elemen disain candi Budha dan Hindu jawa dapat ditemukan kembali dalam sebuah arsitektur yang disebut mashab Amsterdam. Aliran art deco yang muncul di Belanda pada tahun 1920. Para seniman Bali terpengaruh oleh gaya art deco, lewat seniman barat yang masuk Bali. Para seniman Bali yang bekerja pada raja adalah seniman rakyat yang mengisi pura serta istana, itulah asal-usul seni pahat Bali, demikian penjelasan Frans Leidelmeijer.

Seniman Barat
Bali termasuk pulau impian bagi banyak seniman romantis barat; pulau lain di Lautan Teduh yang juga dianggap taman firdaus di bumi ini adalah Tahiti. Paul Gauguin, seniman kondang asal Perancis, teman akrab Vincent van Gogh, adalah seniman pertama yang tinggal di Tahiti. Masuknya seniman barat di Bali diikuti oleh selebriti Hollywood seperti bintang film Charly Chaplin dan Barbara Hutton yang terkenal pada waktu itu, serta para komponis, antropolog, penulis dan sineas. Mereka ini adalah orang-orang yang berduit pada zaman itu. Penulis Vicky Baum yang menulis roman ihwal perang Puputan serta pasangan putra mahkota Belgia datang ke Bali atas undangan seniman Jerman Walter Spies. Covarrubias seorang seniman asal Meksiko juga menulis buku tentang Bali. 

Perkembangan seni ini berjalan terus hingga menghasilkan cindera mata yang dijual di toko Neuhaus milik dua orang berkebangsaan Jerman. Salah satu ciri khas cindera mata ini adalah ukuran khas kecil yang bisa masuk koper untuk dibawa pulang oleh para turis. Untuk menjaga kualitas hasil pahat kemudian didirikan organisasi pita maha oleh Walter Spies dan rekan asal Belanda Rudolf Bonet.

Dalam perang dunia II dan masa pendudukan Jepang, produksi patung Bali sempat terhenti. Gaya art deco kembali muncul dengan gaya patung yang memanjang setelah lepas perang dunia II. Lalu apakah seni pahat ini masih ada di Bali? Frans Leidelmeijer sangat meragukannya. Tetapi masih ada pusat seni pahat Bali yang memproduksi patung yang berkualitas artistik namun tidak dapat disebut art deco lagi.

Frans-Leidelmeijer.jpg
Frans Leidelmeijer

Frans Leidelmeijer adalah seorang usahawan antik. Ia mengatakan sangat sulit untuk menjual patung art deco di Indonesia. Sejak tahun tiga puluhan abad lalu banyak patung yang masuk  Belanda dan Amerika Serikat. Apakah di Belanda masih ada perhatian terhadap seni Indonesia? Radio Nederland menanyakan. "Tidak", kata Frans Leidelmeijer. Hanya bila orang tua mereka berlatar belakang Indonesia atau campuran Indo-Belanda. Bagi generasi muda Belanda, Indonesia adalah negara Asia sebagaimana negara Asia lainnya. Walaupun ada hubungan sejarah antara kedua bangsa ini, jelas Frans Leidelmeijer, pedagang benda seni antik di Amsterdam.    

Tren 
Lalu bagaimana dengan tren cindera mata saat ini? Pak Koswara, seorang pelaku bisnis wisata di Bali mengutip para turis Belanda. Menurut pandangan beberapa turis yang setiap tahun ke Indonesia, perak tradisional dengan motif adat-istiadat dan kepercayaan Bali kurang diminati. Sekarang mereka beralih ke aksesoris perak yang kemudian disesuaikan dengan tren di barat. Begitu pula dengan emas 18 karat dan ikat pinggang wanita yang terbuat dari kerang. Lampu taman yang terbuat dari bambu dan batu serta patung-patung juga menjadi incaran para turis asing.  

Produksi patung Bali berjalan terus dan disesuaikan dengan figur-figur yang disesuaikan dengan zaman, demikian juga lukisan pemandangan flora dan fauna yang sangat diminati oleh turis Belanda. Selain cindera mata yang bisa dibawa dalam koper, yang menjadi tren yang sekarang menjamur adalah patung yang bermuka panjang. Yang menyolok dan sangat diminati saat ini adalah smiling Budha dan tren terbaru yaitu burung yang terbuat dari bambu dan kulit kelapa. Demikian pak Koswara yang sudah puluhan tahun mengantar turis Belanda di pulau Dewata.

Dirangkum oleh Nina Nanlohy.

Kata Kunci: art deco bali

Reaksi:


Nur Azizah, 11-03-2009 - indonesia

dekoratif, dramatis,memperesentasikan kesan yang kuat


dida, 04-02-2009 - Indonesia

sungguh bagus


Mawar Deniwati Sinaga, 13-12-2007 - Indonesia

menurut saya dengan adanya art deco dapat membuat kesenian didunia menjadi lebih maju, sehingga benar adanya pernyataan bahwa sosialisasi ke dalam bentuk pameran sehingga melekat dalam nurani cinta kebudayaan dan seni.


handoko, www.hans_grenden@yahoo.com, 25-10-2007 - indonesia

sosialisasi ke dalam bentuk pameran sehingga melekat dalam nurani cinta kebudayaan dan seni


Berikan tanggapan Anda



Nama
Email
Alamat email tidak ditampilkan
Alamat email ditampilkan
URL
Kota
Negara
Komentar
  Ketiklah huruf-huruf di bawah ini dalam kotak teks guna mencegah email SPAM
 
Kirimkan salinan komentar ini ke email saya