Ribuan korban tsunami 26 Desember 2004 di Meulaboh Aceh Barat, masih menghuni perkampungan tenda-tenda bantuan NGO-NGO asing. Walaupun sudah hampir setahun di sana, namun sampai sekarang mereka belum mendapat kejelasan tentang masa depan mereka. Di mana mereka akan ditempatkan setelah ini? Untung saja penghuni kompleks tenda yang tersebar di beberapa titik di Meulaboh berasal dari kampung yang sama pula. Dengan berkumpul dan menghabiskan waktu bersama mereka bisa bertahan. Lalu bagaimana dengan kalangan remaja? Kelompok usia 10-25 tahun biasanya menghabiskan waktu luar sekolah dengan bermain bersama kawan-kawan. Berikut berita foto sejumlah remaja dari Meulaboh.
| |
|
|
Rudi, 18 tahun, hanya bisa nonton 'pertandingan' volley karena batuk-batuk setelah tsunami. Tapi ia tidak pergi ke dokter karena ibunya yang biasa mengantarnya hilang ditelan tsunami bersama ayahnya. Kini Rudi sering berkumpul dengan teman-teman untuk mengatasi kesedihan yang selalu ketika dia sedang sendiri. |
Wati, 13 tahun, tidak kembali ke bangku sekolah karena tidak ada biaya. Ia harus membantu orangtua mencuci pakaian 5 orang yang membuat tusuk sate untuk kakaknya yang berdagang sate. Ia rindu bersekolah lagi dan main bola basket |
| |
|
|
Asyik bermain badminton menjelang magrib di pelataran kompleks tenda di Tenda Suci Meulaboh |
Gadis mungil dari kampung pengungsi ini menatap penuh curiga pada bidikan kamera |
| |
|
|
Bermain bola volley sambil mengenakan kaos dengan nama bintang sepakbola Ronaldinho. Dengan bermain bersama mereka bisa melupakan trauma tsunami. Walaupun hanya sejenak. |
Anak-anak SMP tampak ceria. Walaupun harus menumpang dan sekolah siang di gedung SMU 1 Meulaboh, semangat mereka tak kendur. |
Kata Kunci: aceh, meulaboh, tsunami
