Radio Nederland Wereldomroep

Bahasa Indonesia > Dokumentasi > Arsip Media

Jawa Tondano

Mengubah Rawa Ganas Menjadi Lahan Pertanian dan Kawasan Pemukiman

Asbari Nurpatria Krisna

28-01-2003


qaAlfallah07 

Klik foto untuk Qasidah Al-Fallah.

Dari 1829 sampai dengan sekarang, 63 orang Jawa para pengikut Diponegoro dan Kyai Mojo yang dibuang ke Tondano, Sulawesi Utara, karena kawin-mawin jumlah mereka kini sudah lebih dari 21.000 jiwa. Jumlah itu tidak terkonsentrasi di Sekitar Danau Tondano, tetapi sudah tersebar di seluruh Sulawesi Utara, bahkan ada yang bertransmigrasi ke kawasan lain.

Pembuangan

Zes_04 

Klik foto Ahmad T. Zes

Ahmad Tumenggung Zes, guru sejarah, yang mengenyam pendidikan tinggi. Ia  adalah generasi ketiga dari orang-orang Jawa para pengikut Pangeran Diponegoro dan Kyai Mojo.  Sesudah ditangkapnya Pangeran Diponegoro, karena pengkhiatan,  mereka ditawan.  Pertama Kyai Mojo dan pengikutnya dibuang ke Ambon, lalu ke Sulawesi Utara. Sebulan kemudian menyusul Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya.  Mengenai pembuangan Pangeran diponegoro dan Kyai Mojo serta para pengikutnya, Ahmad Tumenggung Zes menuturkannya.

Mengubah Rawa Ganas
Pemerintah Hindia Belanda tidaklah mempersiapkan lahan pemukiman bagi

km01 

Klik foto  untuk suara Ahmad T. Zes.

orang-orang Jawa pengikut Kyai Mojo dan Pangeran Diponegoro. Benarlah yang dituturkan oleh Ahmad Tumenggung Zes bahwa penghidupan dan kehidupan mereka sungguh sangat menrenyuhkan.  Mereka yang ditawan ini, dengan diam-diam membawa benih-benih tanaman, seperti padi dan jagung, yang di kemudian hari dapat mereka tanam dan menghasilkan untuk makanan sehari-hari mereka.  Pengikut Kyai Mojo berjumlah 37 orang dan sebulan kemudian menyusul 26 pengikut Pangeran Diponegoro.  Tetapi setelah Pangeran Diponegoro dipindah ke Makassar, para pengikutnya tidak dibawa serta oleh Pemerintah Hindia Belanda.  Agaknya dimaksudkan agar mereka tidak memberontak di tempat baru, yang sebelumnya memang sudah ada pemberontakan.

Kyai Mojo Dipisah dari Pengikutnya

kmojo14 

Klik foto makam Kyai Mojo untuk  suara Ahmad T. Zes.

Untuk menghindari hubungan langsung dengan para pengikutnya, Kyai Mojo ditahan di dekat pemukiman orang Belanda di Tonsea Lama.  Dalam upaya untuk mengolah tanah, pengetahuan yang mereka bawa dari Jawa, mereka telah mempersiapkan lahan pertanian dari rawa yang ganas yang dijinakkan.  Di samping itu mereka juga mempersiapkan kawasan pemukiman.  Mereka yang dibuang semuanya laki-laki, sehingga dalam satu dua tahun, barulah mereka mempunyai hubungan dengan penduduk setempat dan mengenal wanita.   Banyak pimpinan dalam Perang Diponegoro yang ikut dibuang ke Sulawesi Utara, antara lain, menurut penuturan Ahmad Tumenggung Zes adalah Sataruno, Joyosuroto, Banteng, Kertosono dan lain-lainnya.  Mereka adalah orang kepercayaan Pangeran Diponegoro.  Ketika Pangeran Diponegoro dipindah ke Makassar, mereka tetap tinggal bersama-sama pengikut Kyai Mojo.  Pangeran Diponegoro sendiri belum bergabung dengan keluarganya.  barulah di Makassar nanti keluarganya menyusul.

Pemberontakan Bersamaan
Memberontak kepada kekuasaan penjajah memang sudah dilakukan di beberapa daerah, seperti misalnya Pemberontakan Tuanku Imam Bonjol di Sumatera Barat, juga Pemberontakan di Bone, dan Banjarmasin.  Itulah sebabnya pasukan militer Belanda waktu itu tidak terpusat pada satu daerah, tetapi terpecah-pecah.  Dengan demikian dapatlah dipahami kalau terhadap Pangeran Diponegoro ada tipu muslihat yang dijalankan oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Pendidikan Sangat Terbatas

km02 

Kompleks Makam Kyai Mojo dan Pengikutnya.

Pendidikan di masa itu, menurut Tumenggung Zes, sangat terbatas.  Ia membedakan antara penjajahan Belanda dan Inggris.  Karena Belanda bukan negara industri, maka pendidikan tidak dipentingkan. Malah kalau dapat masyarakat jajahan dibodohkan.  Berbeda dengan Inggris yang negeri industri, yang sangat mementingkan hasil industrinya laku, maka pendidikan di kawasan jajahan pun diperhatikan, agar masyarakat mampu  membeli produk industri.

Yang Berkedudukan Yang Menikmati Pendidikan
Tumenggung Zes, ayah dan kakek Ahmad adalah keturunan bangsawan di Jawa.  Ayahnya menjadi lurah selama 32 tahun di Kampung Jawa, di samping menjabat juga sebagai imam.   Karenanya, Ahmad Tumenggung Zes mendapat pendidikan cukup baik, karena begitulah politik penjajahan waktu itu, hanya orang-orang yang mempunyai kedudukan sajalah yang anak-anaknya dapat bersekolah.

Menghormati Agama Penduduk
Rombongan Kyai Mojo tidak mempunyai niat untuk menyebarkan agama Islam, walaupun mereka ingin tetap mempertahankan keislaman mereka. "Kami menghormati agama penduduk setempat, yang masih memegang agama tradisional. Barulah kemudian agama Kristen mulai berkembang. Itulah sebabnya, hubungan mereka dengan penduduk juga baik. Bila ada kematian, orang-orang Jawa ini melayat, bahkan sampai sehari semalam suntuk.  Perbedaan agama tidak ada masalah bagi masyarakat Tondano.

Mengawini Wanita Setempat
Ahmad Tumenggung Zes ini mempunyai darah dari Jawa, Minahasa, Aceh dan Banjar, hasil persilangan perkawinan dengan wanita lain suku.   Buyutnya mengawini wanita Tonsea Lama yang bernama Wulan Wurengah.  Wanita ini berkulit putih, sehingga sangatlah terkenal, apabila minum air putih, air itu berbayang pada lehernya yang putih dan jenjang.  Menikah dengan tiga wanita, karena meninggal, yaitu Wulan Wurengah, Mbok Ina dari Kilapong dan yang ketiga adalah keturunan Minahasa dan Jawa. Rata-rata tiap wanita ini mempunyai 5 orang anak.

Garis Keturunan
Kakeknya, Nurkamid Tumenggung Zes menikah dua kali. Isteri pertamanya sudah tidak diingat lagi namanya, tetapi isteri kedua bernama Atiah yang beranak 6 orang. Ayahnya, Mahmud Zes berasal dari ibu Atiah.  Ayahnya hanya mempunyai satu isteri yang menurunkan enam orang anak. Ahmad anak kedua tetapi lelaki yang pertama dari orang tuanya.

Tak Berniat Pulang ke Jawa
Berkat umur mereka yang panjang-panjang, Ahmad Tumenggung Zes ini merupakan generasi ketiga yang masih hidup.  Mereka sudah enggan pulang ke Jawa, walaupun di Jawa masih mempunyai keluarga. Hal ini disebabkan oleh perkawinan dengan wanita-wanita penduduk setempat.

Hanya Menguntungkan Penjajah
Di Tondano, kala itu, ada usaha mengembangkan pendidikan, irigasi dan transmuigrasi, tetapi karena terutama untuk kepentingan penjajah, maka hanya pengusaha-pengusaha Belanda sajalah yang diuntungkan. (28/01/2003 ---  DX-Komunikasi 26 Januari 2003)

 

LINKS

Kata Kunci: berita, gema, gema warta, radio hilversum, radio nl, ranesi, warta berita