Bahasa Indonesia
>
Dokumentasi
>
Arsip Media
Jawa Tondano
Mengubah Rawa Ganas Menjadi Lahan Pertanian dan Kawasan Pemukiman
|
|
|
Klik foto untuk Qasidah
Al-Fallah.
|
|
Dari 1829 sampai dengan sekarang, 63 orang Jawa
para pengikut Diponegoro dan Kyai Mojo yang dibuang ke Tondano,
Sulawesi Utara, karena kawin-mawin jumlah mereka kini sudah lebih
dari 21.000 jiwa. Jumlah itu tidak terkonsentrasi di Sekitar Danau
Tondano, tetapi sudah tersebar di seluruh Sulawesi Utara, bahkan
ada yang bertransmigrasi ke kawasan lain.
Pembuangan
|
|
|
Klik foto Ahmad T. Zes
|
|
Ahmad Tumenggung Zes, guru sejarah, yang mengenyam
pendidikan tinggi. Ia adalah generasi ketiga dari orang-orang
Jawa para pengikut Pangeran Diponegoro dan Kyai Mojo. Sesudah
ditangkapnya Pangeran Diponegoro, karena pengkhiatan, mereka
ditawan. Pertama Kyai Mojo dan pengikutnya dibuang ke Ambon,
lalu ke Sulawesi Utara. Sebulan kemudian menyusul Pangeran
Diponegoro dan para pengikutnya. Mengenai pembuangan Pangeran
diponegoro dan Kyai Mojo serta para pengikutnya, Ahmad Tumenggung
Zes menuturkannya.
Mengubah Rawa Ganas
Pemerintah Hindia
Belanda tidaklah mempersiapkan lahan pemukiman bagi
|
|
|
Klik foto untuk suara Ahmad T.
Zes.
|
|
orang-orang Jawa pengikut Kyai Mojo dan Pangeran
Diponegoro. Benarlah yang dituturkan oleh Ahmad Tumenggung Zes
bahwa penghidupan dan kehidupan mereka sungguh sangat
menrenyuhkan. Mereka yang ditawan ini, dengan diam-diam
membawa benih-benih tanaman, seperti padi dan jagung, yang di
kemudian hari dapat mereka tanam dan menghasilkan untuk makanan
sehari-hari mereka. Pengikut Kyai Mojo berjumlah 37 orang dan
sebulan kemudian menyusul 26 pengikut Pangeran Diponegoro.
Tetapi setelah Pangeran Diponegoro dipindah ke Makassar, para
pengikutnya tidak dibawa serta oleh Pemerintah Hindia
Belanda. Agaknya dimaksudkan agar mereka tidak memberontak di
tempat baru, yang sebelumnya memang sudah ada
pemberontakan.
Kyai Mojo Dipisah dari
Pengikutnya
|
|
|
Klik foto makam Kyai Mojo untuk suara
Ahmad T. Zes.
|
|
Untuk menghindari hubungan langsung dengan para
pengikutnya, Kyai Mojo ditahan di dekat pemukiman orang Belanda di
Tonsea Lama. Dalam upaya untuk mengolah tanah, pengetahuan
yang mereka bawa dari Jawa, mereka telah mempersiapkan lahan
pertanian dari rawa yang ganas yang dijinakkan. Di samping
itu mereka juga mempersiapkan kawasan pemukiman. Mereka yang
dibuang semuanya laki-laki, sehingga dalam satu dua tahun, barulah
mereka mempunyai hubungan dengan penduduk setempat dan mengenal
wanita. Banyak pimpinan dalam Perang Diponegoro yang
ikut dibuang ke Sulawesi Utara, antara lain, menurut penuturan
Ahmad Tumenggung Zes adalah Sataruno, Joyosuroto, Banteng,
Kertosono dan lain-lainnya. Mereka adalah orang kepercayaan
Pangeran Diponegoro. Ketika Pangeran Diponegoro dipindah ke
Makassar, mereka tetap tinggal bersama-sama pengikut Kyai
Mojo. Pangeran Diponegoro sendiri belum bergabung dengan
keluarganya. barulah di Makassar nanti keluarganya
menyusul.
Pemberontakan Bersamaan
Memberontak kepada kekuasaan
penjajah memang sudah dilakukan di beberapa daerah, seperti
misalnya Pemberontakan Tuanku Imam Bonjol di Sumatera Barat, juga
Pemberontakan di Bone, dan Banjarmasin. Itulah sebabnya
pasukan militer Belanda waktu itu tidak terpusat pada satu daerah,
tetapi terpecah-pecah. Dengan demikian dapatlah dipahami
kalau terhadap Pangeran Diponegoro ada tipu muslihat yang
dijalankan oleh Pemerintah Hindia Belanda.
Pendidikan Sangat Terbatas
|
|
|
Kompleks Makam Kyai Mojo dan
Pengikutnya.
|
|
Pendidikan di masa itu, menurut Tumenggung Zes,
sangat terbatas. Ia membedakan antara penjajahan Belanda dan
Inggris. Karena Belanda bukan negara industri, maka
pendidikan tidak dipentingkan. Malah kalau dapat masyarakat jajahan
dibodohkan. Berbeda dengan Inggris yang negeri industri, yang
sangat mementingkan hasil industrinya laku, maka pendidikan di
kawasan jajahan pun diperhatikan, agar masyarakat mampu
membeli produk industri.
Yang Berkedudukan Yang Menikmati
Pendidikan
Tumenggung Zes, ayah dan kakek Ahmad adalah
keturunan bangsawan di Jawa. Ayahnya menjadi lurah selama 32
tahun di Kampung Jawa, di samping menjabat juga sebagai
imam. Karenanya, Ahmad Tumenggung Zes mendapat
pendidikan cukup baik, karena begitulah politik penjajahan waktu
itu, hanya orang-orang yang mempunyai kedudukan sajalah yang
anak-anaknya dapat bersekolah.
Menghormati Agama Penduduk
Rombongan Kyai Mojo tidak
mempunyai niat untuk menyebarkan agama Islam, walaupun mereka ingin
tetap mempertahankan keislaman mereka. "Kami menghormati agama
penduduk setempat, yang masih memegang agama tradisional. Barulah
kemudian agama Kristen mulai berkembang. Itulah sebabnya, hubungan
mereka dengan penduduk juga baik. Bila ada kematian, orang-orang
Jawa ini melayat, bahkan sampai sehari semalam suntuk.
Perbedaan agama tidak ada masalah bagi masyarakat Tondano.
Mengawini Wanita Setempat
Ahmad Tumenggung Zes ini
mempunyai darah dari Jawa, Minahasa, Aceh dan Banjar, hasil
persilangan perkawinan dengan wanita lain suku.
Buyutnya mengawini wanita Tonsea Lama yang bernama Wulan
Wurengah. Wanita ini berkulit putih, sehingga sangatlah
terkenal, apabila minum air putih, air itu berbayang pada lehernya
yang putih dan jenjang. Menikah dengan tiga wanita, karena
meninggal, yaitu Wulan Wurengah, Mbok Ina dari Kilapong dan yang
ketiga adalah keturunan Minahasa dan Jawa. Rata-rata tiap wanita
ini mempunyai 5 orang anak.
Garis Keturunan
Kakeknya, Nurkamid Tumenggung Zes
menikah dua kali. Isteri pertamanya sudah tidak diingat lagi
namanya, tetapi isteri kedua bernama Atiah yang beranak 6 orang.
Ayahnya, Mahmud Zes berasal dari ibu Atiah. Ayahnya hanya
mempunyai satu isteri yang menurunkan enam orang anak. Ahmad anak
kedua tetapi lelaki yang pertama dari orang tuanya.
Tak Berniat Pulang ke Jawa
Berkat umur mereka yang
panjang-panjang, Ahmad Tumenggung Zes ini merupakan generasi ketiga
yang masih hidup. Mereka sudah enggan pulang ke Jawa,
walaupun di Jawa masih mempunyai keluarga. Hal ini disebabkan oleh
perkawinan dengan wanita-wanita penduduk setempat.
Hanya Menguntungkan Penjajah
Di Tondano, kala itu, ada
usaha mengembangkan pendidikan, irigasi dan transmuigrasi, tetapi
karena terutama untuk kepentingan penjajah, maka hanya
pengusaha-pengusaha Belanda sajalah yang diuntungkan. (28/01/2003 --- DX-Komunikasi 26 Januari
2003)
Kata Kunci:
berita,
gema,
gema warta,
radio hilversum,
radio nl,
ranesi,
warta berita