Radio Nederland Wereldomroep

Bahasa Indonesia > Dokumentasi > Arsip Media

Indro Yudono

Memulihkan Citra Indonesia Menyadarkan Bangsa

Asbari Nurpatria Krisna

26-05-2003


duta1c 

  Klik foto Dubes Indro Yudono

Sejak 1997, ketika perekonomian di Asia Tenggara terpukul karena orang berebut dolar, Indonesia tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga lainnya, seperti Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina.  Mengapa demikian, karena ternyata bukan hanya resesi ekonomi saja, tetapi juga keadaan politik Indonesia terpukul.  Presiden Soeharto diturunkan dan naiklah B.J. Habibie yang secara politis, menurut berbagai kalangan telah membuat kesalahan ketika menawarkan otonomi dan kemerdekaan bagi Timor Timur.

Reformasi Tanpa Gairah
Reformasi tidak memperoleh bentuknya yang pas, akibatnya demokrasi yang diidam-idamkan juga tak tercapai. Itulah sebabnya, menjadi sulit ketika pilihan MPR jatuh kepada Abdurrahman Wahid, yang secara fisik cacat, yaitu kurang baik penglihatannya.

Ketika Presiden Abdurrahman Wahid diganti oleh Megawati, Presiden baru ini pun tidak dapat dengan serta merta memperbaiki ekonomi Indonesia.  Malah situasinya makin parah, karena korupsi yang dijadikan sasaran oleh reformasi, ternyata makin berkembang.

Memperbaiki Citra Indonesia

duta1a 

Klik foto

Dalam keadaan seperti inilah, para Duta Besar Republik Indonesia mendapat tugas untuk memulihkan citra Indonesia.  Tiap negara di dunia mempunyai persepsi masing-masing atas citra Indonesia, sehingga sudah tentu satu Duta Besar dengan lainnya akan berbeda dalam mengantisipasi tugasnya.

Misalnya saja, Duta Besar Republik Indonesia untuk Swiss dan Lichtenstein, Indro Yudono dalam memulihkan citra Indonesia ia lebih menekankan kepada harkat bangsa.  Yang ia harapkan apa pun keadaan Indonesia, janganlah tingkah laku bangsa di mana pun memalukan bangsa lain.  Diplomasi keramahtamahan bangsa Indonesia ini sangat dihargai oleh bangsa Swiss.  Karena itu untuk memperlihatkan keramahtamahan, dilakukanlah berbagai kegiatan masyarakat Indonesia di Swiss terutama dengan tujuan untuk memperbaiki hubungan antara Indonesia dan Swiss.

Cara paling mudah adalah dengan menyelenggarakan kegiatan kesenian dan juga festival makanan.  Orang Swiss sangat menghargai kesenian.

Mengembangkan Minat pada Kesenian
Pihak KBRI akan mengembangkan minat orang Swiss pada gamelan dengan bekerjasama dengan Universitas baik di Bern maupun di tempat lain.   Tugas KBRI adalah mencari pelatih, seperti yang telah terjadi dengan angklung.

Angklung telah diminati sebagai kesenian yang mengembangkan kerja sama antara para pemusiknya.  Yang sudah ada adalah grup angklung yang dimainkan seluruhnya oleh orang Swiss.  Mereka bangga apabila diminta untuk tampil di dalam suatu peristiwa nasional.  Upaya lain adalah mendatangkan pesilat Indonesia.  Silat di Swiss berkembang baik dan dalam suatu kejuaraan Pencak Silat, pesilat Swiss berhasil merebut juara. "Ini berarti,"kata Dubes Indro Yudono, "bahwa Indonesia tidak setengah-setengah di dalam transfer tehnologi atau kesenian."

Keterbatasan
Walaupun niat untuk memperbaiki citra Indonesia ini demikian besar, Dubes Indro mengakui adanya keterbatasan. Dari segi sumber daya manusia saja, para pelatih kesenian tidak lama, karena harus berganti orang.  Itulah sebabnya, diupayakan untuk mengembangkan terus para seniman-seniwati Swiss sendiri yang berminat pada kesenian Indonesia untuk dapat menjadi pelatih atau guru.

Hak-Hak Asasi Manusia
Swiss sebagai pusat kegiatan Perserikatan Bangsa-Bangsa, terutama dalam masalah-masalah perburuhan, pelanggaran hak-hak asasi manusia.  Dubes Indro Yudono masih merasakan di Swiss masih terdengar ada masalah-masalah negatip yang berkaitan dengan Indonesia, terutama pelanggaran hak-hak asasi manusia.  Organisasi atau Lembaga Swadaya

duta1d 

Klik foto

Masyarakat yang sering muncul seperti Amnesty International masih terus mencacat dan membahas soal-soal penyiksaan dan perlindungan para korban.  Di Swiss sendiri ada organisasi vokal dalam bidang ini yaitu International Christian Solidarity.  Organisasi kemasyarakatan yang sering datang ke Jenewa untuk urusan perburuhan, HAM dan lain-lain biasanya tidak sempat berkunjung ke KBRI di Bern, karena tempatnya jauh.  Lagi pula waktu mereka juga sedikit.  Tetapi pernah Dubes Indro datang ke Jenewa dan bertemu dengan mereka.  Mereka menyampaikan kesulitan mereka dan ternyata tidak ada hal-hal yang merugikan.  Tetapi memang benar bahwa ada organisasi Swiss yang karena anggotanya sangat tertarik untuk bersuara, maka didesaklah pengurus untuk mengirimkan surat kepada KBRI.  Akan hal-hal seperti ini, sikap KBRI di Bern lebih pro-aktif.  Dalam menghadapi masalah ini haruslah ada kesungguhan, kesadaran dan  jangan enggan, katanya.

Pers pun Berusaha Netral
Dubes Indro menilai bahwa pers Swiss, seperti negaranya, bersikap netral. Bila ada berita negatif, maka wartawan Swiss selalu berusaha mencari imbangannya.  Tetapi akses ke koran atau majalah bagi siapa pun tidaklah mudah.  Kini ada media yang sangat gampang dan setiap orang dapat melakukannya, yaitu Internet.  "Tetapi," kata Dubes Yudono, "tidak semua tulisan di Internet itu baik.  Kalau ada tulisan yang hanya sekedar ditulis, kami tidak akan menanggapi. Tugas bagian Penerangan untuk menangani kalau ada  hal-hal yang lebih serius. Sikap ini juga tecermin pada pemerintah dan para pengusaha Swiss yang sudah menanamkan modalnya di Indonesia.  Dalam keadaan ekonomi Indonesia terpuruk, "tidak ada satu pengusaha Swiss pun yang hengkang dari Indonesia," kata Dubes.  Ini menunjukkan bahwa Indonesia dengan penduduk yang besar merupakan pasar yang baik.

Kerja Sama antar KBRI di Eropa
Upaya memperbaiki citra Indonesia melalui kesenian sudah dilakukan dengan menggalang jaringan antar KBRI di Eropa.  Salah satu contoh, ketika Titiek Puspa dan Elly Kasim tampil dengan rombongannya, tidak hanya dipertunjukkan di Swiss saja, tetapi juga di negara lain.   Pertunjukan untuk masyarakat ini memang belum dikelola secara profesional, karena sifatnya masih promosi.  Tetapi bahwa kesenian yang mereka tampilkan itu menarik, terbukti dari pendapat Duta Besar Jepang di Bern, yang pada mulanya meragukan untuk tinggal sebentar saja,  ternyata dia menonton sampai selesai, bahkan memberikan ucapan selamat kepada para seniman. 

B

budi01b 

Budi Dewayani

ekerja sama dengan KBRI Roma, KBRi di Bern juga akan menampilkan tim kesenian dari Sumatera Selatan.  Sasaran berikutnya, Dubes Indro akan bekerja sama dengan seniman untuk menyelenggarakan pameran lukisan di Lichtenstein.  Agustus mendatang Blatt Center akan mempromosikan Bali, yang menurut Kabid Pensosbud Budi Dewayani, akan terus digalakkan, karena para tour operator Swiss pun merasa dirugikan oleh pemboman Bali.  Menurut Budi masih ada kerja sama KBRI dengan restoran dan  Hotel, yang akan menampilkan tari-tarian Indonesia dan juga masakan Indonesia.  "Bali masih tetap menarik bagi orang Swiss,"tambah Dubes Indro, "untuk dikunjungi." Mungkin benar slogan pariwisata yang selama ini kita dengar: "See Bali before you die!"

Korupsi
Membaca hasil survai Transparency International mengenal korupsi, orang Indonesia tidak habis pikir, karena Indonesia menduduki tempat di bawah.  "Orang Swiss, sama seperti manusia lain di dunia," tutur Dubes Indro Yudono yang sudah banyak kali bertugas di luar negeri, "menilai korupsi terjadi dimana-mana. Juga di Swiss. Tapi kadarnya berbeda.  Kalau memang benar ada korupsi di Indonesia, sedikitnya samalah seperti di Swiss."   Itulah sebabnya Dubes Indro yang pernah jadi wartawan foto IPPHOS ini menghimbau, "Marilah kita semua terbuka. Kita kelola KBRI ini secara terbuka.  Transparan.  Dengan keterbukaan pemimpin, penggantinya yang telah dibekali keterbukaan ini akan mengikuti teladannya, seperti terjadi di tempat lain yang pernah saya bertugas."

Mengenai korupsi ini, di masa pemerintahan Soekarno-Hatta sudah dicoba untuk memberantasnya.  Negeri seperti Belanda, katanya, menghadapi masalah yang sama.  Di zaman VOC, korupsi bukan main.  Tetapi setelah diganti pemerintahan Belanda, korupsi bisa diperkecil.  "Setelah kita ambil alih, kok korupsinya yang kita ambil, bukan hal-hal yang baik," keluhnya.

Ia memberikan formula bagaimana memberantas koruspi. "Itu harus dimulai dari keluarga. Bila tiap keluarga bersih, maka insyaallah, pemerintahan pun akan bersih.  Karena itu para pemimpin janganlah berkhotbah meminta semuanya bersih, tetapi dirinya sendiri hidup bermewah-mewah.  Jadi tidak ada satunya kata dengan perbuatan."

Demokrasi
Sudah lima Presiden, tetapi Indonesia dinilai oleh dunia Barat tidak demokratis.  Bahkan di masa Presiden Soeharto mereka menilai diktator. Kediktatoran ini mereka saksikan karena Presiden Soeharto memerintah terlalu lama dan seakan-akan dengan tangan besi. "Tetapi," kata Dubes Indro yang lebih memilih bekerja di Departemen Luar Negeri ketimbang jadi fotografer atau bekerja di DKI Jakarta Raya, "demokrasi ini masih dapat diperdebatkan.  Demokrasi di Indonesia ada, tetapi baru sampai taraf kampung.  Di masa kerajaan, di tingkat bawah demokratis, tetapi makin ke atas, kekuasan rajalah yang menentukan."

Ia menekankan, apa pun demokrasi namanya dan tujuannya, "Tujuan utamanya adalah menyejahterakan rakyat. Kalau rakyat sejahtera OK-lah.  Indonesia mempunyai demokrasi, kerakyatan, tetapi belum berhasil. Dan mengenai kebebasan mengeluarkan pendapat, Indonesia juga punya.  Tetapi tanggungjawab pribadinya yang belum kuat,"  kata Dubes Indro Yudono yang senang menantang stafnya untuk menyampaikan pikiran-pikiran dan gagaan-gasan barunya. (26/05/2003 – DX-Komunikasi 25 Mei 2003)

LINKS

Kata Kunci: berita, gema, gema warta, radio hilversum, radio nl, ranesi, warta berita