9 Agustus 2005 warga Suriname keturunan Jawa merayakan dan memperingati 115 tahun imigrasi ke Suriname. Pada tahun 1890 itulah sebanyak 94 orang buruh kontrak dari Jawa untuk pertama kali menginjakkan kaki di Suriname, wilayah lain jajahan Belanda di pesisir utara benua Amerika Latin. Pengiriman buruh dari Jawa itu merupakan dampak dari berakhirnya sistim perbudakan tahun 1863. Penguasa Belanda di Suriname kekurangan buruh perkebunan dan mendatangkan buruh dari pulau Jawa. Hal itu berlangsung hingga tahun 1939 dan mencapai jumlah 33 ribu jiwa.
Generasi pertama
Berbekal tekad dan kontrak lima tahun, buruh kontrak dari Jawa dipekerjakan untuk membabat hutan dan bekerja di perkebunan. Generasi pertama buruh dari Jawa ini menghadapi banyak tantangan kehidupan baru yang tidak mudah. Perasaan senasib ini membangkitkan solidaritas dan kebersamaan di antara mereka. Dengan etos kerja yang tinggi dan menjunjung tinggi budaya Jawa mereka berhasil mendidik, membesarkan dan memberi masa depan lebih baik kepada anak cucu.
Bagi generasi muda Jawa Suriname di manapun mereka berada, tanggal 9 Agustus adalah hari besar. Hampir setiap tahun mereka merayakan dan memperingati sebagai bentuk terimakasih serta syukur kepada orang tua. Tahun ke 115 memiliki arti yang besar sebagai ‘bigi jari’ kelipatan lima.
Tamu penting
Perayaan di Paramaribo Suriname tahun ini sangat istimewa. Bukan hanya menampilkan sendra tari dan tembang khas Jawa bernuansa Latin, perpaduan budaya dengan etnis lain di Suriname saja, namun perayaan kali ini dihadiri tamu penting, Presiden Suriname Ronald Venetiaan serta tamu Agung Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Di Belanda, dengan jumlah komunitas sekitar 30 ribu, warga Jawa Suriname juga tidak ketinggalan merayakan dan memperingati ‘bigi jari’ itu. Empat organisasi Jawa Suriname di Belanda bersama, menggelar peringatan dan pesta budaya bersama di Amsterdam pada 13 Agustus. "Rukun Budi Utama" adalah salah satu organisasi yang terlibat dalam penyelenggaraan pesta itu.
|
Henriette Mingoen |
Ruud Gullit
Radio Nederland mengundang Ibu Henriette Mingoen, ketua Rukun Budi Utama dalam perbincangan interaktif dengan mitra Radio KLCBS Bandung dan Radio Suara Sunari di Denpasar, Bali. Obrolan menarik tentang perkembangan bangsa Jawa dari generasi pertama hingga sekarang, baik yang di Belanda maupun di Suriname, hubungannya dengan tanah leluhur di Jawa, Indonesia dan lainnya. Banyak pendengar di Bandung dan Denpasar ingin tahu apakah bintang legendaris sepakbola Belanda Ruud Gullit punya latar belakang Jawa?
Perbincangan itu dapat anda ikuti dalam acara Dialog Mondial setiap Senin malam, Jum'at dan Sabtu pagi.
Kata Kunci: buruh, henriette mingoen, jawa, sultan hamengkubuwono x, suriname
