Satu dari 43 orang calon komisioner Komnas HAM berasal dari kelompok minoritas. Dia seorang waria, namanya Yulianus Rettoblaut, akrab disapa mBak Yuli. Berikut profil Mbak Yuli disusun reporter KBR68H Faryansah.
Yulianus Rettoblaut tak menyangka lolos seleksi calon anggota komisioner Komnas HAM. Bersama 42 calon lain, Yulianus akan mengikuti uji kepatutan dan kelayakan di hadapan anggota DPR bulan ini. Itulah seleksi tahap akhir, untuk memillih belasan komisioner Komnas HAM periode 2007-20012.
Pagi sekali dia memberitahukan keberhasilannya lolos seleksi setelah membaca koran. Kabar gembira itu juga disebarkannya ke banyak kawan. Yulianus tak mengira bisa sejauh ini karena sadar berasal dari kelompok minoritas.
Yulianus: Aku juga agak terkejut, mbak Yuli kamu masuk untuk 43 besar. Awalnya tadi kaget, apa iya kami bisa masuk gitu dengan keterbatasan kami ini, aku tadinya ya kalau memang masuk ya mudah-mudahan kalau gak masuk ya juga gak papa, ternyata masuk.
Berani
Yang tak menyangka bukan cuma Yulianus. Keberaniannya mendaftar menjadi kejutan bagi banyak kalangan, termasuk tim seleksi. Ketua Tim Seleksi Profesor Soetandyo Wignjosoebroto.
Soetandyo Wignjosoebroto: Terkejut sih tidak tapi surprise, apa ya tidak menyangka, ora ngiro. Tidak ada apa-apa ya suatu perubahan-perubahan di mana kesamaan hak mulai diakui. Tapi kalau mereka diterima bukan karena mereka itu lain dari yang lain, dan kalau ditolak juga jangan menuduh bukan karena lain dari yang lain. Waktu uji public penilaian baik, anggota setuju untuk diteruskan ya diteruskan.
Begitu lolos, Yuli menyatakan seleksi calon anggota Komnas HAM yang dilakukan tim seleksi dan disetujui paripurna Komnas HAM, terbukti tak diskriminatif. Menurutnya tim seleksi tak mementingkan asal seseorang, apakah ia minoritas atau bukan. Tidak juga mempersoalkan jender dan SARA.
Yulianus: Pertama kali mereka tahu mereka memang kaget karena istilahnya ini fenomena baru. Selama ini waria kan selalu distigma waria itu kan bisanya mejeng di jalan. Untuk hal-hal non formal saja bisanya, untuk hal-hal berupa intelektual itu belum pernah terjadi. Pas waktu kita datang itu, orang ada yang kaget, apa iya bener. Ternyata kita juga bangga pertama kali mendaftar dan beberapa kali tes diskriminasi itu tidak ada, malah kita istilahnya sangat dihormati sekali.
Tukang salon
Sebagai seorang waria Yulianus biasa disapa mami Yuli atau Mbak Yuli. Sehari-hari dia bekerja sebagai penata rambut di sebuah salon kecil miliknya, di rumah kontrakan kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.
Waria sering dicap sebagai tukang salon, pengamen, penghibur, bahkan penjaja seks. Masalahnya mereka tak pernah dapat kesempatan bekerja di sektor formal. Nancy mungkin satu-satunya waria yang bisa bekerja sebagai pegawai negeri dengan mengenakan rok. Ketua Forum Komunikasi Waria se-DKI Jakarta ini mengatakan diskriminasi terhadap kelompok waria begitu kuat sehingga mereka dipersulit bekerja di sektor formal.
Yulianus: Itu selalu terjadi ketika diberhentikan secara perlahan atau didiskriminasi di lingkup kerjanya. Nah itu hal yang perih sekali pengakuan-pengakuan temen waria di lingkup kerja yang ketahuan statusnya waria. Sehingga kecibir, sindir sampir selalu ada kenyamanan bekerja itu suatu hal yang ditakuti para waria.
Perlakuan beda itu juga dialami ketika waria tersangkut kasus hukum. Aparat penegak hukum masih sering menstigma mereka.
Yulianus: Payung hukum terutama, kalau kita berbenturan dengan hukum. Kita selalu tidak tuntas, jangankan tuntas, diproses kek tidak.
Pengakuan
Menambah deretan perlakuan diskrimitif terhadap waria, Mbak Yuli yang juga Ketua Forum Komunikasi Waria se-Indonesia pernah mengeluhkan status waria pada DPR. Itu terjadi beberapa bulan lalu ketika parlemen membahas Rancangan Undang Undang Administrasi Kependudukan. Tak ada pengakuan buat waria, hanya karena penampilan mereka yang seperti wanita.
Yulianus: Bagaimana bapak bisa membantu kami untuk status kependudukan kami karena jelas kelamin kami ini selalu diragukan untuk mengurus KTP, sebab pada dasarnya komunitas waria selalu berhubungan dengan masyarakat umum, selalu didiskriminasi. Contoh kecil saja, kita kadang-kadang ke mall, kita masuk ke wc perempuan salah, kita masuk ke wc cowok salah, jadi kita harus bagaimana.
Diskriminasi itu masih terjadi sampai sekarang. Ines, aktivis Arus Pelangi, baru-baru ini kena giliran untuk mengalaminya. Kartu keluarganya tak juga disahkan lurah, karena fotonya seperti perempuan. Si lurah memintanya ganti foto karena jenis kelaminnya laki-laki.
Inez: Fotoku itu rambutnya panjang dan tergerai. Kemudian mereka mempermasalahkan. Dan, belum ditanda-tangani karena foto, mereka menuntut aku ganti foto. Yang jadi pertanyaanku kenapa, apa masalahnya dengan fotoku yang seperti itu. Apa sih, kenapa dengan fotoku seperti ini, kalau mau dibilang sopan kan, pake kemeja.
Arus pelangi merupakan sebuah LSM peduli trans-jender. LSM ini merupakan wadah bagi kelompok lesbian, gay, biseksual dan transeksual. Ketua Arus Pelangi Rido Triawan mengatakan perlakuan diskriminatif terhadap waria telah melembaga. Parahnya, negara juga melakukannya. Dia mencontohkan peraturan di sebuah daerah yang menyatakan jika anda waria berarti anda terlibat kegiatan prostitusi dan itu melanggar perda.
Hapus diskriminasi
Beragam perlakuan diskriminatif terhadap mereka. Beragam pula persoalan hak-hak azasi manusia yang menimpa waria. Ini membulatkan tekad MBak Yuli untuk ikut mendaftar seleksi calon anggota komisioner Komnas HAM. Tujuannya menghapus diskriminasi.
Yulianus: Kita akan berusaha agar hak-hak azasi manusia yang selama ini kebanyakan komunitas kita ini banyak dilanggar, selalu menjadi korban, di mana mereka kan selalu dianggap orang tidak berguna dibiarin begitu saja. Padahal belum tentu semua permasalahan itu waria salah, tapi karena dianggap, ah waria ini ngapain diurus, dia emang waria, dia emang salah. Nah, stigma-stigma ini yang akan kita perjuangkan.
Mbak Yuli mendaftar bersama Nancy. Nancy tak lolos seleksi pada tahap wawancara. Mbak Yuli mendapat rekomendasi dari aktivis HAM Asmara Nababan, Ketua Arus Pelangi Rido Triawan, serta rohaniwan penanggung jawab Komunitas Ciliwung Merdeka, Romo Sandyawan Sumardi. Menurut Romo Sandy, Mbak Yuli akan sangat memahami persoalan hak-hak azasi manusia yang dialami kalangan waria. Sebagai kelompok yang sering dilanggar hak-haknya, maka terhadap kelompok lain, Mbak Yuli akan punya solidaritas tinggi.
Romo Sandy: Orang yang memang terlibat dalam masalahnya, dalam memperjuangkan hak-hak azasinya itu akan lebih intens kalau dia sendiri merupakan bagian dari yang dipersepsikan, yang dicitrakan masyarakat itu, dia sendiri, menjadi obyek. Maka dia sendiri akan berjuang mati-matian, sementara dari segi otoritas intelektual maupun pengetahuan umum dia tak kalah dengan yang lain.
Dan, mengalirlah dukungan pada Mbak Yuli.
Aktivis dari dulu
Mbak Yuli lahir di Asmat, Papua. Ia anak ketujuh dari 11 bersaudara. Lima tahun lagi usianya mencapai setengah abad. Mbak Yuli dikenal berkepribadian baik, setia kawan, punya sikap kepemimpinan, dan religius.
Sebagai aktivis, MBak Yuli konsisten bergerak di bidang penguatan dan pemberdayaan kelompok marjinal, terutama kelompok waria, gay, lesbian, dan transeksual. Ia terlibat dan memimpin beberapa forum serta organisasi waria sebagai sarana penyatuan, penguatan, dan pemberdayaan kelompoknya.
Tahun 1980an, ia pernah jadi Ketua Karang Taruna Kelurahan Kalibata Utara, Ketua Mudika Gereja Katolik Pasar Minggu dan Ketua Forum Komunikasi Waria Jakarta Selatan hingga tahun 2006. Sejak 2006, ia menjadi Ketua Forum Komunikasi Waria Indonesia. Ia juga bergabung di Yayasan Srikandi Sejati untuk pendampingan ODHA.
Sebelum tahun 1980an, Mbak Yuli berada dalam sebuah masa kelam hidupnya. Ia sempat belasan tahun dekat dengan dunia prostitusi waria, karena harus bertahan hidup, setelah kekasih mengkhianati dan menguras hartanya. Padahal Yuli telah bekerja dan mapan.
Yulianus: Saya terlalu percaya sama dia jadi untuk mengurusi masalah keuangan segala sesuatu sama dia, saya tak mengerti kalau dia lelaki normal akhirnya ketahuan dia punya istri, menikah diam-diam. Dari saat itu saya mulai frustasi, saya jadi stress semua barang-barang saya juali. Semua family saya di Jakarta tak mau menerima karena saya tak punya uang lagi.
Macan
Ketika itu, di tempat mangkal para waria, Taman Lawang dan Jalan Prapanca Jakarta, Yuli dikenal sebagai macannya kawasan.
Yulianus: Lama-lama di situ, ada sekitar 70 waria, waktu jamannya bakso kumis aku mulai dikenal orang karena badan saya besar sendiri, item sendiri. Aku gak mau waria diapa-apain orang. Jadi kalau waria diapa-apain mending aku gulat sama tamu, jadi kalau orang mau apa-apain waria hadapin aku dulu. Aku sudah nekat seperti itu karena aku sudah gak punya siapa-siapa lagi.
Yuli berhenti setelah mendengar dicari adiknya. Ia sadar setelah keluarga memperhatikannya kembali. Sejak kecil Yulianus sudah beda dari anak laki-laki lain. Sisi perempuannya lebih dominan. Tapi, di kampungnya ia tidak diterima. Tak ada tempat baginya untuk mengaktualisasi diri. Makanya, begitu lulus SMA ia putuskan melanjutkan pendidikan ke Universitas Atmajaya Jakarta, sekaligus untuk membebaskan diri, mengikuti hati menyukai laki-laki.
Yulianus: Sejak remaja usia 12 sampai 17 tahun tak pernah mendapat kesempatan karena tertekan sama lingkungan dan keluarga. Akhirnya sampai di Jakarta ini saya mendapat teman yang senasib, akhirnya mereka mengajak saya ayo kita ke sana yuk. Akhirnya saya mengenal dunia malam itu di Taman Lawang. Karena di daerah itu memang tidak bisa dapat kesempatan dan tertekan, tidak bisa untuk membagi suka dan duka. Pertama karena lingkungan seperti itu, kedua karena latar belakang keluarga kehidupan keras, ketiga daerah di sana awam. Akhirnya setelah perasaan ini ada, saya memang ingin jauh dengan keluarga karena saya tidak bisa ketekan terus seperti ini. Sampai di Jakarta, saya bisa berontak di sini.
| Klik untuk dengarkan laporan lengkap | |
Kini, setelah masa kelam dilewati dan jauh ditinggalkan, Yulianus Rettoblaut berniat menghabiskan sisa umurnya untuk sesama.
Yulianus: Aku akan berusaha di masa tua saya ini untuk menebus kesalahan saya dengan berbuat dengan teman-teman dan orang yang membutuhkan saya terutama untuk kegiatan-kegiatan sosial karena saya beranggapan bahwa perjuangan orang tua saya untuk menjadi anak baik ternyata sia-sia, saya sudah coreng nama baik keluarga, tetapi saya selalu berdoa kepada tuhan, saya ingin buktikan sebetulnya saya tidak ingin seperti itu dan masa itu telah saya lewati, akhirnya nanti saya bisa jadi contoh, saya akan nulis buku supaya perjalanan hidup saya menjadi cermin teman-teman yang lain.
Tim Liputan KBR68H melaporkan untuk Radio Nederland Wereldomroep di Hilversum
Kata Kunci: Mbak Yuli Waria Calon Anggota Komnas HAM
