Kecelakaan pesawat militer Hercules di Magetan yang menewaskan 92 orang, menandakan anggaran militer yang tidak mencukupi. Hal itu sebetulnya sudah menjadi keprihatinan karena sejak di masa Orde Baru modernisasi peralatan militer menurun drastis dibanding ketika zaman Demokrasi Terpimpin. Apa sebabnya? Ikuti wawancara Radio Nederland Wereldomroep dengan pakar militer Universitas Negeri Malang, Hariyono.
Di zaman reformasi, para politisi sudah mengabaikan kepentingan militer, maka anggaran untuk sektor itupun turun drastis. Dampaknya militer tidak mampu membeli peralatan atau melakukan pemeliharaan. Akibatnya pula sering terjadi kecelakaan karena minimnya anggaran.
Buka hati dan pikiran
Kasus Magetan, mudah-mudahan bisa membuka hati dan pikiran para politisi termasuk calon presiden. Bahwa persenjataan militer tidak harus dikaitkan dengan sebuah rezim yang otoritarian.
Karena ada sebagian politisi Indonesia yang melihat bahwa trauma yang berlebihan terhadap militerisme pada saat Orde Baru membutuhkan anggaran yang sangat besar. Sehingga kalau bidang pertahanan anggarannya diperbesar, dikhawatirkan akan muncul trauma itu.
Padahal ini peningkatan anggaran harus menjadi kebutuhan. Kalau ingin menjaga NKRI, dibutuhkan kekuatan bersenjata yang cukup kuat dengan teknologi yang cukup maju. Dan ini yang menurut Hariyono, menjadi penekanan, karena sayangnya, justru presiden SBY melihat hal itu bukanlah semata anggaran, ia melihat yang lain.
Yusuf Kalla justru melontarkan sesuatu yang diikuti oleh politisi dan capres yang lain bahwa anggaran di seksi pertahanan itu harus meningkat. Karena yang wajar itu di atas Rp 100 trilyun, sekarang hanya sekitar Rp 35 hingga 36 trilyun. Jumlah itu untuk biaya operasional dan gaji para miiliter Indonesia saja masih kurang.
Ikuti wawancara selengkapnya dengan meng-klik link di kanan atas halaman ini.
Kata Kunci: Anggaran, Hercules, Magetan, Orde Baru
