Radio Nederland Wereldomroep

Bahasa Indonesia > Gema Warta > Indonesia

Papua Terancam Konflik Agama

Radio Nederland Wereldomroep

17-06-2008

Di Papua ada potensi konflik antar agama dan golongan, karena hubungan antara muslim dan kristen di kawasan itu makin tegang. Demikian tertera di laporan International Crisis Group (ICG). Menurut Thaha Mohammad Alhamid, sekjen Presidium Dewan Papua, di Papua belakangan berdatangan apa yang disebut orang kristen baru dan muslim baru. Mereka ini beraliran keras dan bisa menyulut konflik seperti yang pernah terjadi di Maluku. Apa yang dimaksud dengan muslim baru dan kristen baru itu? Ikutilah keterangan penggagas Majelis Muslim Papua ini kepada Radio Nederland.

Thaha Mohammad Alhamid [TMA]: Secara terbuka, memang konflik itu belum kelihatan. Tapi gki_papua_200.jpgbahwa potensi itu ada saya percaya. Karena memang terakhir ini, atau memang paling tidak dalam sepuluh tahun terakhir, kita kenal mungkin istilah yang pas adalah islam baru dan kristen baru, yang ada di Papua memang menunjukkan gejala-gejala atau tanda-tanda yang jelas bahwa ruang perbedaan itu semakin tajam, semakin terbuka.

Kita lihat tiba-tiba tumbuh di tanah Papua ini berbagai kelompok pengajian yang eksklusif kemudian ada juga gereja-gereja seperti di Sorong ada gereja yang sangat mewah dan tidak banyak masyarakat Papua yang masuk di situ. Kemudian juga ada pesantren-pesantren yang tiba-tiba bermunculan bahkan banyak dipertanyakan. Kenapa ada pesantren di komunitas yang non muslim. Juga organisasi seperti Hizbut Tahrir, kemudian juga ada kelompok-kelompok Salafi dan lain-lain. Itu sangat jelas sekali di Sorong, di daerah-daerah seperti Manokwari juga di Fak-Fak, di Kaimana dan Jayapura.

Radio Nederland Wereldomroep[RNW]: Inilah yang Anda maksud, muslim baru dan kristen baru itu ya?

Ketegangan 
TMA: Ya. Kami memakai pandangan itu lantaran muslim Papua, yang sekarang ini tergabung di dalam Majelis Muslim Papua adalah masyarakat Papua, masyarakat asli yang beragama islam dan tumbuh dalam semangat religiusitas, yang moderat, yang ada di dalam pelataran budaya bersama-sama dengan saudara-saudaranya yang beragama nasrani.

Demikian juga sebaliknya pada saudara-saudara yang beragama nasrani yang memang tumbuh dalam semangat Papua bersama-sama dengan masyarakat muslim, tanpa membangun itu perbedaan-perbedaan. Ini terbukti sekian puluh tahun tidak pernah ada ketegangan, tidak pernah ada konflik. Ketakutan itu baru mulai terasa sekarang ini.

RNW: Kalau begitu ini akan bisa mengarah kepada konflik seperti terjadi di daerah lain seperti di Maluku begitu ya?

TMA: Potensinya sangat pas. Menurut saya justru berada di puncak kekhawatiran, dan ini memang kalau memang ada trigger (penyulut,red) bisa meledak. Satu contoh misalnya ketika tahun yang lalu rencana pembangunan mesjid raya di Manokwari yang kemudian ditentang dengan sangat keras oleh saudara-saudara kaum nasrani, dan sesudah itu muncul apa yang dikenal dengan perda kota injil. Itu juga direspon beragam dan beberapa kelompok-kelompok garis keras dari muslim yang berada di luar Papua, itu merespon dengan pandangan jihad.

RNW: Apakah ada upaya-upaya seperti Anda yang muslim lama, dan yang sudah lama di sana yang berakar di sana untuk mengusahakan supaya jangan terjadi eskalasi?

Membangun dialog 
TMA: Tahun yang lalu, setelah pada tahun 1999 sejumlah aktivis dari kalangan muslim Papua mendorong terbentuknya itu solidaritas muslim Papua. Dan tahun yang lalu digelar muktamar yang pertama dan platform dari terbentuklah majelis muslim Papua dengan platform yaitu moderat, toleran, dialog, partisipasi dari masyarakat adat. Yang notabene itu lebih banyak masyarakat nasrani, sangat besar sekali.

Kita harap bahwa kelak lembaga ini melakukan proses penjembatanan hubungan antar subkultur. Tapi juga itu komunikasi dalam kerangka Papua tanah damai yang selama ini didukung oleh pimpinan agama, gereja-gereja, juga majelis ulama dan seterusnya. Itu terus menerus membangun dialog-dialog walau pun saya percaya bahwa di dalam kegiatan itu belum semua komponen-komponen ini terlibatkan. Tetapi ada komitmen yang kuat dari masyarakat Papua untuk menjaga agar Papua menjadi tanah damai.

RNW: Apakah ada peranan pemerintah dalam hal ini supaya menghindari jangan terjadi eskalasi?

TMA: Ya, seharusnya banyak peran yang harus dilaksanakan oleh pemerintah, agar supaya tidak terjadi konflik. Tetapi kita juga tahu di lain pihak, pemerintah punya kepentingan. Menjelang pemilu sebentar lagi dengan begitu banyak partai, itu tentu menawarkan banyak kemungkinan. Hal yang utama saya kira adalah komitmen yang sungguh-sungguh dari masyarakat dari kelompok-kelompok civil society. Pemerintah diharapkan menjadi fasilitator.

Kata Kunci: ICG, konflik, Papua, Thaha Mohammad Alhamid

Reaksi:


perjaka petir, tiknoz_maho@yahoo.com, 01-08-2008 - indonesia

SING KONFLIK BODOH!


akon , 07-07-2008 - Indonesia

Ideologi Pancasila harus tetap ditegakan di NKRI, agar Bhineka Tunggalika tetap utuh, dengan besar harapan tidak boleh ada padangan sebelah mata kepada kaum 5 agama yang berada di NKRI.


Boim, 19-06-2008 - Indonesia

Gue sebagai bangsa Indonesia juga setuju klu adanya toleransi antara sesama agama. Cuma gue sebel sama orang yg selalu munafik & memutar balikan fakta. Contohnya, seperti Nashita bilang: Orang muslim terdidik utk berbaik sangka, tapi nyatanya???(selalu ngejelekin Negara Eropah, America, dll) Terlalu toleransi, tapi nyatanya???(ngebakarin gereja2) Diajarkan menjunjung perdamaian di muka bumi tanpa adanya pihak2 dirugikan, tapi nyatanya???( sdh berapa banyak tuh korban bom & kerusuhan).Sudah puluhan tahun mendapat penghujatan sebagai agama teroris (ini karena ada faktanya!!!). Bodoh (karena selalu mengganggap pintar & paling benar). Terbelakang (memang benar cara berpikirnya terbelakang!!!). Gue rasa utk adanya perubahan di negara Indonesia, diantaranya jangan bersikap munafik. Kita orang2 yg tinggal di dunia ini nggak ada yg ngggak pernah berbuat dosa/ nggak pernah melakukan kesalahan. Makanya lebih baik koreksi diri & merubah segala kelakuan yg munafik & menggalang persatuan bangsa & sesama agama.


simon, 19-06-2008 - Indonesia

itu kan imbas dari akibat kaum minoritas yang tertindas, seperti di Jawa, kaum minoritas kan juga tertindas dan tidak dapat bergerak bebas sesuai apa ang di katakan Undang-Undang, nah pada akhirnya yang imbasnya ke daerah lain yang di daerah lain sebagai minoritas, tapi di daerah lain lagi sebagai mayoritas, jadi seperti tidak akan habis-habisnya permasalahan ini, karena selamanya akan saling berbalas dendam. Khusus diPapua, ancaman konflik itu memang sangat mungkin bisa terjadi, dan kalau pemerintah tidak bisa tegas dalam memberantas biang keladinya, atau pemerintah hanya takut kepada ancaman mayoritas tanpa bisa melindungi yang minoritas hal itu akan mungkin terjadi, dan yang lebih parah lagi Negara kita tercinta Indonesia bisa terpecah belah.


Nashita, 18-06-2008 -

Seandainya toleransi antar umat beragama benar-benar ditegakkan, artinya tidak ada pergerakan terselubung, menusuk dari belakang, tetap menghargai perbedaan, percikan-percikan permusuhan tidak perlu terjadi. Karena memang lakum dinukum waliadin. Agamamu agamamu, agamaku agamaku. Faktanya seperti di Maluku, ketika jumlah minoritas muslim, yang terjadi mereka ditindas. Orang Muslim terdidik untuk berbaik sangka, terlalu toleransi, diajarkan menjunjung perdamaian di muka bumi tanpa adanya pihak-pihak dirugikan, dan sudah puluhan tahun mendapat penghujatan sebagai agama teroris, bodoh, terbelakang. Pada akhirnya tumbuh geliat-geliat fanatik yang sebenarnya memang (sewajarnya juga) dimiliki setiap umat beragama. Tak mungkin seorang umat beragama tidak fanatik dengan agamanya. Hanya saja fanatik yang pada tempatnya itu fanatik yang tidak merembet keluar area. Lepas dari semua itu, kembali kita semestinya mengingat sebagai sesama saudara sebangsa setanah air duduk bersama meredam segala perbedaan yang ada, jangan jahat-jahatan, untuk turut memikirkan dan membangun negeri yang sedang sakit parah ini. Bukan dengan menyulut perbedaan tapi menyulut persatuan atas nama menjunjung tinggi toleransi sesungguhnya. Misalnya: memberikan bantuan dan fasilitas tanpa embel-embel mengajak memasuki agama tertentu, menciptakan kegiatan-kegiatan sosial tanpa tendensi terselubung. Itu yang disebut ketulusan. Akar dari kebersamaan tanpa memandang perbedaan.


Berikan tanggapan Anda



Nama
Email
Alamat email tidak ditampilkan
Alamat email ditampilkan
URL
Kota
Negara
Komentar
  Ketiklah huruf-huruf di bawah ini dalam kotak teks guna mencegah email SPAM
 
Kirimkan salinan komentar ini ke email saya