Gagal membawa Papua menjadi negara merdeka, Julian Jaap Maarey, bekas Panglima Organisasi Papua Merdeka di Nabire, memutuskan membangun Kampung Bhinneka Tunggal Ika di Desa Kimi. Di sana warga lokal berbaur dengan warga pendatang, dari pelbagai suku. Kini Kampung Bhinneka Tunggal Ika dijadikan kampung percontohan di bumi Papua. Reporter KBR68H Doddy Rosadi berkunjung ke kampung tersebut.
Bikin kampung
Tepat pada Hari Pahlawan 10 November 1975, Panglima Organisasi Papua Merdeka OPM di Nabire Julian Jaap Maarey menyerahkan diri ke Indonesia.
Jaap Maarey: Karena saya menyadari perjuangan OPM untuk membuat Papua Merdeka tidak mungkin dan itu tidak benar. Karena kesatuan Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke sudah resmi di mata dunia di PBB. Jadi perjuangan saya ketika itu jelas sia-sia. Saya akan mati sia-sia, anak-anak saya juga, warga Papua juga akan sengsara.
Jaap sempat memutuskan kembali ke Napan, kampung halamannya, masih di Nabire. Setelah gagal membentuk negara sendiri, ia memutuskan bikin kampung saja. Niat itu disampaikan ke Markas Besar TNI Angkatan Darat. Gayung bersambut. Kebetulan TNI juga punya rencana membangun kampung bagi bekas anggota OPM.
Malangnya rencana ini gagal. Tapi Jaap pantang mundur. Ia datang dengan ide baru. Kali ini ia ingin mendirikan Kampung Bhinneka Tunggal Ika, yang dihuni warga Nabire dan warga pendatang. Jaap memilih menyebut kata 'kampung' ketimbang 'desa' lantaran belum ada listrik yang masuk ke sana.
Kampung ini dilandasi kenyataan bahwa warga Nabire jarang bisa hidup berdampingan dalam damai dengan warga pendatang. Rasa cemburu kerap menyeruak karena taraf hidup warga pendatang lebih baik. Masalah sepele bisa menyulut tawuran, hampir tiap tahun selalu ada pertikaian antara warga lokal dengan pendatang. Tawur terakhir terjadi Maret lalu.
Tanah
Pertengahan 1987, Jaap mulai membangun Kampung Bhinneka Tunggal Ika.
Jaap Maarey: Karena saya pikir mau bikin globalisasi dari Sabang sampai Merauke sehingga saya rekrut dari Makassar, Jawa, Menado dan Timur juga. Masyarakat yang cari hidup di Nabire yang tidak punya tanah. Mereka itu kan garap tanah orang di Nabire karena itu saya bilang ke mereka, kalau mau punya tanah maka datang ke desa Bhinneka Tunggal Ika.
Jaap membagi-bagikan tanah seluas dua hektar secara cuma-cuma kepada tiap kepala keluarga yang mau tinggal di Kampung Bhinneka Tunggal Ika. Awalnya, hanya warga lokal yang tertarik tinggal di kampung ini. Baru tahun-tahun berikutnya, warga Bugis, Jawa, Timor hingga Makassar mulai berdatangan.
Tanah yang diberikan tak otomatis jadi milik warga. Warga hanya boleh menggarap tanah tersebut untuk pertanian, tak boleh menjualnya.
Seleksi warga
Andi Rumaniowi adalah salah satu warga yang memutuskan tinggal di Kampung Bhinneka Tunggal Ika. Asalnya tak jauh dari Nabire. Andi datang ke kampung ini sebagai guru di SD Negeri Inpres Kimi sejak 1984. Dulu Andi mengajar di Waropen, lalu dipindahkan ke Desa Kimi. Kini Andi jadi guru tetap di sana.
Andi Rumaniowi: Waktu itu tanah banyak, tapi belum diserahkan ke masyarakat. Memang saya akui, cara berpikir Pak Jaap tepat. Karena, jangan sampai orang dapat tanah dan rumah trus dijual dan pergi. Sehingga dites betul orang-orang yang akan mendapatkan rumah dan tanah.
Tes yang dimaksud Andi adalah seleksi warga yang dilakukan oleh Jaap. Calon warga Kampung Bhinneka Tunggal Ika diminta bertani dahulu. Kalau malas-malasan, maka calon warga itu bakal ditolak. Tak jadi bagian dari kampung tersebut.
Di masa awalnya, suasana Kampung Bhinneka Tunggal Ika masih sangat sepi. Tak banyak warga tinggal di sana. Hanya ada 100an Kepala Keluarga, listrik pun belum masuk. Gedung SD hanya satu, gedung SMP baru dibangun awal 1990an. Pada 1989, kehidupan mulai bergeliat seiring masuknya listrik. Warga Bugis, Jawa dan Timor di Nabire mulai tertarik pindah ke kampung ini.
Iming-iming mendapatkan tanah dan rumah cuma-cuma menjadi alasan utama untuk pindah ke Kampung Bhinneka Tunggal Ika. Apalagi, setelah listrik masuk dan dibangunnya sekolah serta puskesmas. Secara gotong royong, dengan bantuan dana Pemerintah Kabupaten Nabire, warga Kampung Bhinneka Tunggal Ika membangun rumah ibadah, Sekolah Dasar sampai Puskesmas. Waktu itu mereka mulai sebagai petani coklat, tukang atau nelayan.
Aturan ketat
Hanya ada satu aturan yang berlaku ketat di Kampung Bhinneka Tunggal Ika. Begini penjelasan Jaap.
Jaap Maarey: Dilarang bawa adat istiadatnya ke dalam kampung ini. Yang kita kenal hanya satu aturan yaitu hukum yang berlaku di Indonesia. Tapi kita juga menghargai hukum adat jadi kita sinkronkan sehingga bisa diterima. Misalnya ada yang tanam pohon mangga di batas halaman dengan tetangga, kalau masuk ke halaman sebelah maka akan menjadi milik tetangga sebelah. Satu lagi, kalau saya piara babi dan makan tanaman milik tetangga sebelah, maka tetangga itu boleh membunuh babi itu dan nanti dibagi dua dengan pemilik babi itu.
Warga pun patuh pada aturan yang sudah disepakati bersama.
Kepala kampung
Hambali, asal Jawa Barat, pensiunan pilot pesawat maskapai Merpati Nusantara, sudah tinggal di kampung ini sejak awal 1980an.
Hambali: Pak Jaap itu kan membentuk perkampungan yang sifatnya Bhinneka Tunggal Ika artinya persatuan. Ini tepat sekali. Mereka yang baru masuk harus patuh pada peraturan setempat dan ternyata iya. Apalagi kita-kita yang sudah lama di sini ikut mendukung dan mengendalikan aturan yang dijalankan aparat kampung.
Perlahan-lahan, jumlah penduduk di Kampung Bhinneka Tunggal Ika meningkat. Dari 100 kepala keluarga, kini sudah dua kali lipatnya. Jaap Maarey merasa perlu ada seorang kepala kampung yang bisa memimpin warga. Egbert Tokoro pun dipilih. Egbert adalah warga Jayapura yang juga anggota Kepolisian Papua.
Jaap Maarey: Di sini ada kepala desa, anggota kepolisian, dia orang Jayapura. Istrinya orang sini. Dia saya minta untuk jadi kepala desa. Saya minta langsung kepada Kapolda. Karena, setelah saya lihat, beliau menguasai bahasa-bahasa lokal dan dia kenal suku-suku yang ada disini. Dia orangnya jujur dan juga tegas.
Adalah kehormatan bagi Egbert Tokoro untuk bisa memimpin Kampung Bhinneka Tunggal Ika.
Egbert Tokoro: Pada awalnya saya masuk ke sini sebagai Kamtibmas. Lalu, masyarakat melihat saya bisa memimpin desa maka saya dipilih menjadi kepala desa. Satu periode sudah habis dan warga percaya kepada saya sehingga diminta untuk menjadi kepala desa lagi.
Sebagai kepala kampung, Egbert dibantu oleh sekretaris kampung, aparat kampung, juga Ketua RT yang tugasnya menyelesaikan semua persoalan yang terjadi antar warga. Jika tak bisa diselesaikan di tingkat RT, baru dibawa ke Kepala Kampung. Kalau masih gagal juga, giliran Jaap Maarey turun tangan.
Mabuk-mabukan
Ketua RT Daantje Kaiwai: Di kampung ini sudah kami sampaikan kepada warga bahwa ada aturan. Yang tidak mau mengikuti peraturan maka tidak dianggap sebagai penduduk dan dipersilakan pergi. Karena itu, biasanya kalau ada kesalahpahaman, biasanya mereka melapor ke kami dan bilang masalah itu sudah diselesaikan.
Salah satu masalah yang kerap muncul adalah anak muda yang mabuk-mabukan. Jaap Maarey jauh-jauh hari menegaskan, warga dilarang mabuk-mabukan. Yang melanggar harus meninggalkan kampung, berikut keluarganya. Putra Jaap termasuk yang pernah kena sanksi.
Jaap Maarey: Anak saya saja yang mabuk juga kena sanksi. Saya suruh ke Kapolsek, tembak saja anak saya itu. Dia kabur berbulan-bulan ke tempat terpencil. Waktu Natal, Kapolsek tanya tentang anak saya. Karena pas Natal, maka saya bilang saya sudah maafkan. Lalu saya bilang ke anak saya, kalau kau mabuk lagi, maka kamu pergi dari kampung ini.
Selama ini sudah dua warga diusir karena tak taat peraturan. Pertama karena mencuri, kedua karena mabuk-mabukan.
Ciri khasnya
Ciri khas Kampung Bhinneka Tunggal Ika adalah kesadaran akan keberagaman. Tak ada sekat-sekat adat atau agama yang membatasi mereka. Gereja dan masjid pun berdiri berdekatan.
Jaap Maarey: Kita kemarin baru saja bangun gereja yang cukup megah, orang Islam juga kasih sumbangan semen dan juga ikut bekerja. Gereja itu perlu dana sekitar 1,3 milyar rupiah. Dana bantuan adri pemda 200 juta, dari teman-teman 25 juta dan dari orang Islam 95 sak semen dan pemudanya juga ikut bantu membangun. Jadi, di sini tidak ada batas-batas yang membatasi kita sebagai warga negara dan masyarakat.
Kebersamaan antar agama paling terasaa saat hari besar agama tiba, Lebaran atau Natal. Hambali, asal Jawa Barat, salah satu penduduk kampung, merasa sangat terkesan dengan suasana Lebaran di kampung ini.
Hambali: Kalau kita mau silaturahmi yah tinggal keluar masuk rumah tetangga, begitu juga dengan kaum Nasrani. Anak-anak mereka juga ikut. Semuanya harmonis tanpa ada suatu hal pun yang mengganjal.
Satu keluarga besar
Warga Kampung Bhinneka Tunggal Ika ibarat satu keluarga besar. Saling percaya, saling tolong jika ada yang butuh bantuan. Tak ada perbedaan antar suku, semua melebur dalam kebersamaan. Segala perbedaan suku dan agama dikesampingkan untuk hidup bersama dalam kedamaian. Tak heran bila pemerintah Kabupaten Nabire menjadikan kampung ini sebagai kampung percontohan.
Kini Jaap siap dengan rencana berikutnya, membangun Kampung Nusantara. Jaap bahkan sudah memasang iklan di koran lokal, mengundang warga lokal usia 27-35 tahun yang ingin tinggal di kampung tersebut dan bersedia jadi petani coklat.
Jaap Maarey: Sebuah kampung yang akan meliputi seluruh Indonesia, saya bikin seperti Indonesia Mini di sini. Karena itu, saya akan bangun 1000 KK lagi. Dari 1000 KK ini saya juga sudah siapkan 1000 hektar. Sudah ada bantuan 50 rumah dari pemerintah provinsi. Karena, saya ingin membangun sebuah kampung yang sejahtera di atas tanah yang subur ini.
Kata Kunci: desa kimi, kampung bhinneka tunggal ika, keberagamaan papua, liputan 68h, nabire, papua, radio nederland, radio nederland wereldomroep, ranesi
