Radio Nederland Wereldomroep

Bahasa Indonesia > Gema Warta > Belanda

Krisis Hantam Sektor Pelayaran Sungai Belanda

Pintu Air Kini Sepi

Johan Huizinga

24-05-2009

Tanpa belas kasihan, krisis ekonomi menghantam sektor pelayaran sungai Belanda. Banyak kapal terpaksa membuang sauh selama beberapa pekan, menunggu muatan. Bahkan, beberapa pemilik kapal bersedia menarik muatan dengan harga di bawah biaya produksi, dalam upaya mencegah kerugian lebih banyak.

Kelebihan jumlah armada kapal dan kurangnya muatan mulai menelan korban.

Deru suara motor motor diesel sepanjang Kanal Amsterdam-Rijn kini tak terdengar lagi. Tanpa bersuara, sektor pelayaran sungai sabar menunggu datangnya muatan.

binnenvaart_1.jpg"Setelah menunggu selama dua pekan, Senin lalu baru saya dapat muatan lagi", keluh pemilik kapal Jan Plomp dari Amsterdam.

"Dan sebelumnya, saya pernah menunggu muatan selama tujuh pekan. Saya mulai berlayar sejak usia enambelas tahun. Kini usia saya 53 tahun. Saya belum pernah mengalami keadaan seperti ini. Saya kira, keadaan sekarang ini memang bisa dibandingkan dengan krisis tahun 1930-an".

Hutang
Jan Plomp biasa mengangkut bahan bangunan. Dan selama resesi ini, sektor bangunan praktis berhenti. Ia kini mengangkut muatan pakan ternak, dari Amsterdam ke Gent, di Belgia. Sektor pangan kini masih perlu transportasi. Karena, pada masa krisis pun, setiap orang tetap harus makan.

Kepercayaan tanpa batas pada manfa'at pembesaran skala dan pasar bebas selama beberapa tahun belakangan, kini mulai minta korban. Berkat dorongan pemerintah dan sektor perbankan, para pemilik kapal kini dililit hutang setinggi langit, jelas pemilik kapal Marcussen. Kapalnya bersandar tidak jauh dari pintu air.

"Jika kira pergi ke bank buat pinjam uang untuk beli kapal bekas seberat 1.000 ton, mereka akan lebih senang jika kita beli kapal sama sekali baru, dengan kapasitas 3.000 ton. Pemerintah juga ikut bertanggung-jawab, karena mereka menyediakan jaminan negara. Jadi, jika nanti gagal, negara wajib membayar 45 persen dari nilai hipotik pada bank".

Spekulasi
Dampaknya: kelebihan jumlah kapal dengan kapasitas besar, mulai panjang 110 meter atau lebih, dengan kapasitas 2.000 hingga 3.000 ton. Dan setiap pekan, muncul tambahan dua kapal baru seperti itu, keluh Marcussen.

Menurut pemilik kapal, Jan Plomp, atas dorongan bank, banyak orang berspekulasi secara sembarangan dengan kapal. Bahkan, sebelum kapal baru tersebut meluncur ke air, sering harganya sudah melonjak naik.

"Bank bank berspekulasi atas kenaikan harga kapal. Kata mereka: tanam modal dengan kapal seharga enam atau tujuh juta. Sebelum kapal tersebut meluncur ke air, kita bisa menjualnya kembali dengan laba 400.000 euro. Jadi, dipesanlah sebuah kapal. Berikutnya: pesan saja sekalian dua lagi, khusus buat dijual kembali".

binnenvaart_2.jpgPergeseran
Kelesuan bukan hanya melanda para pemilik kapal besar. Juga pemilik kapal ukuran sedang seperti Marcussen dan Jam Plomp merasakan hantaman krisis.

Karena kurangnya permintaan, para pemilik kapal besar, kini juga bersedia menarik muatan muatan lebih kecil. Dan hal ini, memaksa para pemilik kapal ukuran sedang, untuk juga menerima muatan lebih kecil lagi. Sedang para pemilik kapal paling kecil, tidak kebagian muatan lagi.

Sementara itu, para pemilik kapal dengan hutang selangit, karena putus asa, bersedia menarik muatan dengan harga di bawah biaya produksi. Dengan demikian, sektor pelayaran sungai telah menjadi korban pembesaran skala, yang telah diterapkan secara kelewat batas.

Di Eropa, sektor pelayaran sungai Belanda, masih merupakan jenis usaha paling besar. Dan pemerintah melihat sektor pelayaran sungai sebagai pilihan ramah lingkungan hidup, ketimbang transportasi jalan raya. Namun, sektor ini sekarang sedang sakit.

Kapal kapal ukuran besar kini menghadapi kesulitan finansial serius. Sedang, kapal kapal ukuran kecil, yang sangat diperlukan bagi angkutan pelayaran di kanal kanal kecil, kini menghadapi resiko, akan sama sekali terhempas ke luar dari sektor ini.

Kata Kunci: Kanal Amsterdam Rijn, Sektor Pelayaran Sungai Belanda

Berikan tanggapan Anda



Nama
Email
Alamat email tidak ditampilkan
Alamat email ditampilkan
URL
Kota
Negara
Komentar
  Ketiklah huruf-huruf di bawah ini dalam kotak teks guna mencegah email SPAM
 
Kirimkan salinan komentar ini ke email saya