Radio Nederland Wereldomroep

Bahasa Indonesia > Gema Warta > Asia Pasifik

Hubungan Cina-Taiwan Membaik

Perang Dingin berakhir

Karen Meirik

20-05-2009

Cina-TaiwanSudah persis satu tahun presiden Ma Ying Jeou berkuasa di Taiwan. Sejak itu hubungan antara Beijing dan Taipei sangat membaik. Ini terlihat dari bertambahnya jumlah penerbangan langsung dan pelayanan kapal feri antara daratan Cina dan Taiwan. Ini berita baik bagi provinsi Fujian, yang dari dulu berhubungan baik dengan pulau itu.

Perbatasan di pulau Jinmen, antara daratan Cina dengan Taiwan, baru beberapa bulan dibuka untuk semua pengunjung. Kartu identitas penumpang kapal feri yang berdatangan dari mana-mana, diperiksa dan dibubuhi stempel.

Tampaknya tidak ada yang sadar bahwa beberapa tahun lalu Jinmen adalah kubu terakhir peperangan antara Cina yang beraliran komunis dengan partai Kuomintang (KMT) di Taiwan.

Nostalgia
Shi, direktur dan pemilik pabrik kulit di daratan Cina, menghabiskan masa tugasnya di Jinmen. Ia teringat, bahwa pada tahun enam puluhan abad lalu kondisinya sangat tegang.

"Granat dari pihak komunis beterbangan menyerang kami, dan kami pun menembak balik."

Shi bercerita sambil senyum.

Sekarang, itu sudah menjadi nostalgia bagi Jinmen. Selain para musafir - seperti Shi, yang tiap dua minggu naik feri murah ini untuk mengunjungi keluarga di Taipei - ada juga turis yang datang dari daratan Cina ke Jinmen.

Hubungan langsung tidak hanya murah, tapi juga menghemat waktu.

Papan-papan yang memperingatkan bahaya ranjau di pinggir jalan, pengeras suara raksasa dari beton yang tidak lagi digunakan dan bunker-bunker kosong merupakan peninggalan perang dingan antara Republik Rakyat Cina yang beraliran komunis dan KMT yang nasionalis.

Ikatan keluarga
Konflik ini sangat menyakitkan. Sekitar tiga perempat penduduk Taiwan punya keluarga di Fujian. Warga propinsi tersebut merasa dirinya sangat dekat dengan Taiwan, baik mental maupun fisik.

"Mayoritas warga tidak pernah memusingkan aspek-aspek politik kebijakan Selat Taiwan."

Demikian kata profesor Lin Minshu, pakar hubungan Taiwan pada universitas Xiamen di Fujian.
"Banyak candi Budha di Taiwan berasal dari Fujian, dan hampir semua keluarga Taiwan di sini memiliki pura untuk mengenang leluhur."

Tapi menurut Lin ada juga perselisihan politik yang besar. Misalnya pemberitaan politik Taiwan.

"Media di sini sering memberitakan kacaunya situasi politik Taiwan. Mereka bahkan membandingkannya dengan Revolusi Budaya yang melanda Cina pertengahan abad lalu di bawah rezim Mao Zedong. Tapi banyak warga Fujian justru mengangap politik Taiwan sebagai contoh yang baik."

Ekonomi
Menurut Lin sangat baik bagi Fujian, kalau KMT kembali berkuasa.

"Taiwan ingin menjadikan kawasan seputar Xiamen sebagai zona ekonomi khusus. Dengan demikian ekonomi Fujian dan ekonomi Taiwan akan bisa lebih terikat satu sama lain. Ini juga akan berpengaruh pada politik lokal."

Zeng Qinzhao, ketua Organisasi Xiamen untuk Usahawan Taiwan, puas dengan apa yang dicapai pada tahun pertama di bawah pimpinan Presiden Ma.

"Hubungan langsung antara Xiamen dan Jinmen sangat membaik. Ini bagus untuk posisi Xiamen."

Demikian Zeng Qinzhao, wakil sekitar 100 ribu usahawan Taiwan di pelabuhan Cina.

Seusai Perang Dunia II pertikaian di Cina terus berlangsung. Pertikaian melibatkan kelompok nasionalis pimpinan Chiang Kai Shek dan di pihak lain pasukan komunis pimpinan Mao Zedong. Musim gugur tahun 1949, tokoh-tokoh nasionalis terakhir mengungsi ke Taiwan. Di sana mereka membangun semacam pemerintah di pengasingan. Selama bertahun-tahun itu, tidak pernah dicapai kesepakatan gencatan senjata.

Sampai tahun 1970an, pemerintah Kuomintang di Taipei melalui pelbagai organisasi internasional seperti PBB, mewakili seluruh rakyat Taipei. Baru setelah presiden Amerika Richard Nixon di tahun 1973 kembali menjalin hubungan resmi dengan Beijing, Taiwan keluar PBB dan Dewan Keamanan.

Setelah meninggalnya Chiang Kai-shek tahun 1975, putranya, Chiang Chin-kuo perlahan-lahan meninggalkan KMT. Kini Taiwan memiliki salah satu pemerintah paling demokratis di Asia.

Sejak tahun 1980an usahawan Taiwan berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi Cina. Peranan ini tetap dipegang sampai tahun 2001.

KMT untuk pertama kehilangan kekuasaan ketika kalah dari Partai Rakyat Demokrat DPP pimpinan Chen Shui Bian. DPP menginginkan kemerdekaan, sementara KMT dan Partai Komunis Cina CCCP mendambakan rekonsiliasi Taiwan dengan 'negeri asal'.

Bersama musuh bersama DPP, KMT dan CCCP menjadi makin dekat. Sejak setahun lalu Kuomintang mengambil alih kekuasaan dari DPP, hubungan antara keduanya lebih tenang.

Kata Kunci: cina, fujian, ma ying yeou, taiwan

Berikan tanggapan Anda



Nama
Email
Alamat email tidak ditampilkan
Alamat email ditampilkan
URL
Kota
Negara
Komentar
  Ketiklah huruf-huruf di bawah ini dalam kotak teks guna mencegah email SPAM
 
Kirimkan salinan komentar ini ke email saya